BANYAKNYA KASUS PUTUS SEKOLAH DI INDONESIA

Standard

BANYAKNYA KASUS PUTUS SEKOLAH DI INDONESIA

Faktor ekonomi menjadi faktor penyebab yang paling dominan putus sekolah. Kenyataan itu dapat dilihat dari tingginya angka rakyat miskin di Indonesia yang anaknya tidak bersekolah atau putus sekolah karena tidak ada biaya. Kurangnya ekonomi orang tua yang dikarenakan tidak adanya penghasilan yang tetap/tidak adanya pekerjaan, kurangnya minat untuk meraih pendidikan/ mengenyam pendidikan dari anak didik itu sendiri, karena faktor lingkungan baik itu pergaulan sehari-hari dengan teman sebaya maupun lingkungan yang lain, kurangnya motivasi dan pengawasan orang tua yang disebabkan karena orangg tua tidak pernah mengenyam pendidikan dan tidak memahami arti pentingnya pendidikan bagi kehidupan bangsa, dan bernegara juga merupakan penyebab kasus anak putus sekolah.

Anak putus sekolah juga dapat disebabkan oleh beberapa factor yaitu factor internal dan eksternal. Faktor internalnya yaitufaktor dari dalam diri anak putus sekolah disebabkan malas untuk pergi sekolah karena merasa minder, tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekolahnya, sering dicemoohkan karena tidak mampu membayar kewajiban  biaya sekola.ak dipengaruhi oleh berbagai faktor .Ketidak mampuan ekonomi keluarga dalam menopang biaya pendidikan yang berdampak terhadap masalah psikologi anak sehingga anak tidak bisa bersosialisasi dengan baik dalam pergaulan dengan teman sekolahnya selain itu adalah peranan lingkungan.  Karena pengaruh teman sehingga ikut-ikutan diajak bermain seperti play stasion sampai akhirnya sering membolos dan tidak naik kelas , prestasi di sekolah menurun dan malu pergi kembali ke sekolah. Anak yang kena sanksi karena mangkir sekolah sehingga kena Droup Out. Faktor internalnya yaitu Faktor keluarga dan lingkungan. Dalam keluarga miskin cenderung timbul berbagai masalah yang berkaitan dengan pembiayaan hidup anak, sehingga anak sering dilibatkan  untuk membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga sehingga merasa terbebani dengan masalah ekonomi ini sehingga mengganggu kegiatan belajar dan kesulitan mengikuti pelajaran, kurangnya perhatian orang tua cenderung  akan menimbulkan berbagai masalah. Makin besar anak perhatian orang tua makin  diperlukan, dengan cara dan variasi dan sesuai kemampuan. Kenakalan anak adalah salah satu penyebabnya adalah  kurangnya perhatian orang tua, hubungan keluarga tidak harmonis dapat berupa perceraian orang tua, hubungan antar keluarga tidak saling peduli. Keadaan ini merupakan dasar anak mengalami permasalahan uyang serius dan hambatan dalam pendidikannya sehingga mengakibatkan anak mengalami putus sekolah.

Pendidikan murah atau gratis yang banyak dijanjikan dan diinginkan masyarakat, memang akan membantu jika ditinjau secara faktor ekonomi, namun kebijakan ini juga harus ditunjang dengan kebijakan yang lain untuk menyelesaikan faktor-faktor penyebab putus sekolah lainnya. Karena faktor ekonomi bukan penyebab satu-satunya putus sekolah.

Sebagai warga Negara Indonesia tentunya akan merasa cemas dengan adanya kasus putus sekolah ini. Pemerintah seharusnya lebih tegas lagi dalam menyikapi masalah ini. Dan begitu juga dengan orangtua dan guru-guru seharusnya memberikan motivasi dan mengawasi peserta didik dan anak-anaknya.

Salah satu usaha untuk mengatasi terjadinya anak putus sekolah adalah dengan menyadarkan orang tua akan pentingnya pendidikan anak demi menjamin masa depannya dan dapat meneruskan cita-cita orang tuanya. Sebagaimana kita ketahui bahwa tidak ada orang yang memperoleh jabatan atau pangkat yang tinggi dengan tanpa adanya pendidikan sebagai modalnya. Dalam mencegah anak dari putus sekolah, orang tua perlu juga memberikan dorongan (motivasi) kepada anak dalam belajar dan memberikan bantuan kalau ada kesulitan belajar yang dialami anak. Untuk mengatasi terjadinya anak putus sekolah juga perlu adanya pengawasan dari orang tua terhadap kegiatan dan hasil belajar anak, guru seharusnya mampu memerankan fungsi sosialnya. Kompetensi sosial merupakan salah satu dari empat kompetensi yang harus dimiliki guru. Kompetensi lainnya adalah kompetensi pedagogik, profesional, dan kepribadian. Usaha untuk mengatasi terjadinya anak putus sekolah juga dapat dilakukan dengan cara tidak membiarkan anak untuk bekerja mencari uang sendiri, karena hal ini dapat melalaikan anak untuk sekolah. Di sisi lain apabila anak sering dimanjakan dan terlalu banyak diberikan uang jajan di sekolah juga dapat mengakibatkan anak malas belajar. Bahkan sering tidak masuk sekolah dan pergi bermain bersama teman-temannya, apalagi anak yang mempunyai motor dan mempunyai uang banyak ia bebas pergi ke mana saja.

Akibat yang disebabkan anak putus sekolah adalah kenakalan remaja, tawuran , kebut-kebutan di jalan raya, minum – minuman  dan  perkelahian, akibat lainnya juga adalah perasaan minder dan rendah diri.

Standard

BANYAKNYA KASUS PUTUS SEKOLAH DI INDONESIA
Faktor ekonomi menjadi faktor penyebab yang paling dominan putus sekolah. Kenyataan itu dapat dilihat dari tingginya angka rakyat miskin di Indonesia yang anaknya tidak bersekolah atau putus sekolah karena tidak ada biaya. Kurangnya ekonomi orang tua yang dikarenakan tidak adanya penghasilan yang tetap/tidak adanya pekerjaan, kurangnya minat untuk meraih pendidikan/ mengenyam pendidikan dari anak didik itu sendiri, karena faktor lingkungan baik itu pergaulan sehari-hari dengan teman sebaya maupun lingkungan yang lain, kurangnya motivasi dan pengawasan orang tua yang disebabkan karena orangg tua tidak pernah mengenyam pendidikan dan tidak memahami arti pentingnya pendidikan bagi kehidupan bangsa, dan bernegara juga merupakan penyebab kasus anak putus sekolah.
Anak putus sekolah juga dapat disebabkan oleh beberapa factor yaitu factor internal dan eksternal. Faktor internalnya yaitufaktor dari dalam diri anak putus sekolah disebabkan malas untuk pergi sekolah karena merasa minder, tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungan sekolahnya, sering dicemoohkan karena tidak mampu membayar kewajiban biaya sekola.ak dipengaruhi oleh berbagai faktor .Ketidak mampuan ekonomi keluarga dalam menopang biaya pendidikan yang berdampak terhadap masalah psikologi anak sehingga anak tidak bisa bersosialisasi dengan baik dalam pergaulan dengan teman sekolahnya selain itu adalah peranan lingkungan. Karena pengaruh teman sehingga ikut-ikutan diajak bermain seperti play stasion sampai akhirnya sering membolos dan tidak naik kelas , prestasi di sekolah menurun dan malu pergi kembali ke sekolah. Anak yang kena sanksi karena mangkir sekolah sehingga kena Droup Out. Faktor internalnya yaitu Faktor keluarga dan lingkungan. Dalam keluarga miskin cenderung timbul berbagai masalah yang berkaitan dengan pembiayaan hidup anak, sehingga anak sering dilibatkan untuk membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga sehingga merasa terbebani dengan masalah ekonomi ini sehingga mengganggu kegiatan belajar dan kesulitan mengikuti pelajaran, kurangnya perhatian orang tua cenderung akan menimbulkan berbagai masalah. Makin besar anak perhatian orang tua makin diperlukan, dengan cara dan variasi dan sesuai kemampuan. Kenakalan anak adalah salah satu penyebabnya adalah kurangnya perhatian orang tua, hubungan keluarga tidak harmonis dapat berupa perceraian orang tua, hubungan antar keluarga tidak saling peduli. Keadaan ini merupakan dasar anak mengalami permasalahan uyang serius dan hambatan dalam pendidikannya sehingga mengakibatkan anak mengalami putus sekolah.
Pendidikan murah atau gratis yang banyak dijanjikan dan diinginkan masyarakat, memang akan membantu jika ditinjau secara faktor ekonomi, namun kebijakan ini juga harus ditunjang dengan kebijakan yang lain untuk menyelesaikan faktor-faktor penyebab putus sekolah lainnya. Karena faktor ekonomi bukan penyebab satu-satunya putus sekolah.
Sebagai warga Negara Indonesia tentunya akan merasa cemas dengan adanya kasus putus sekolah ini. Pemerintah seharusnya lebih tegas lagi dalam menyikapi masalah ini. Dan begitu juga dengan orangtua dan guru-guru seharusnya memberikan motivasi dan mengawasi peserta didik dan anak-anaknya.
Salah satu usaha untuk mengatasi terjadinya anak putus sekolah adalah dengan menyadarkan orang tua akan pentingnya pendidikan anak demi menjamin masa depannya dan dapat meneruskan cita-cita orang tuanya. Sebagaimana kita ketahui bahwa tidak ada orang yang memperoleh jabatan atau pangkat yang tinggi dengan tanpa adanya pendidikan sebagai modalnya. Dalam mencegah anak dari putus sekolah, orang tua perlu juga memberikan dorongan (motivasi) kepada anak dalam belajar dan memberikan bantuan kalau ada kesulitan belajar yang dialami anak. Untuk mengatasi terjadinya anak putus sekolah juga perlu adanya pengawasan dari orang tua terhadap kegiatan dan hasil belajar anak, guru seharusnya mampu memerankan fungsi sosialnya. Kompetensi sosial merupakan salah satu dari empat kompetensi yang harus dimiliki guru. Kompetensi lainnya adalah kompetensi pedagogik, profesional, dan kepribadian. Usaha untuk mengatasi terjadinya anak putus sekolah juga dapat dilakukan dengan cara tidak membiarkan anak untuk bekerja mencari uang sendiri, karena hal ini dapat melalaikan anak untuk sekolah. Di sisi lain apabila anak sering dimanjakan dan terlalu banyak diberikan uang jajan di sekolah juga dapat mengakibatkan anak malas belajar. Bahkan sering tidak masuk sekolah dan pergi bermain bersama teman-temannya, apalagi anak yang mempunyai motor dan mempunyai uang banyak ia bebas pergi ke mana saja.
Akibat yang disebabkan anak putus sekolah adalah kenakalan remaja, tawuran , kebut-kebutan di jalan raya, minum – minuman dan perkelahian, akibat lainnya juga adalah perasaan minder dan rendah diri.

Makalah Kebudayaan

Standard

 

MAKALAH PENDIDIKAN

AGAMA KRISTEN

“Budaya”

 

 

Disusun Oleh :

  1. Lulus Edy Hermawan              (292011001)
  2. Nofi Putri Ari Wijayanti                     (292011121)
  3. Lena Puspito Rini                       (292011382)

 

 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA

2012


KATA PENGANTAR

 

Seiring dengan kemajuan jaman, tradisi dan kebudayaan daerah yang pada awalnya dipegang teguh, dipelihara dan dijaga keberadaannya oleh setiap suku, kini sudah hampir punah. Pada umumnya masyarakat merasa gengsi dan malu apabila masih mempertahankan dan menggunakan budaya lokal atau budaya daerah. Kebanyakan masyarakat memilih untuk menampilkan dan menggunakan kesenian dan budaya modern daripada budaya yang berasal dari daerahnya sendiri yang sesungguhnya justru budaya daerah atau budaya lokallah yang sesuai dengan kepibadian bangsanya. Mereka lebih memilih dan berpindah ke budaya asing yang belum tentu sesuai dengan kepribadian bangsa bahkan masyarakat lebih merasa bangga terhadap budaya asing daripada budaya yang berasal daridaerahnya sendiri. Tanpa mereka sadari bahwa budaya daerah merupakan faktor utama terbentuknya kebudayaan nasional dan kebudayaan daerah yang mereka miliki merupakan sebuah kekayaan bangsa yang bernilai tinggi yang perlu dijaga kelestarian dan keberadaannya oleh setiap individu di masyarakat. Padaumumnya mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya kebudayaan merupakan jati diri bangsa yang mencerminkan segala aspek kehidupan yang berada didalamnya. Besar harapan kami dengan dibuatnya makalah yang berjudul Budaya ini menjadi salah satu sarana agar masyarakat menyadari betapa berharganya sebuah kebudayaan bagi suatu bangs, yang akhirnya akan membuat masyarakat menjadi merasa bangga terhadap budaya daerahnya sendiri.

 

 

 

 

Salatiga, 14 Maret  2012

Penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR……………………………………………………………..      i

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………      ii

BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………………..      1

1.1  Latar Belakang …………………………………………………………………      1

1.2  Tujuan ……………………………………………………………………………      2

1.3  Batasan Masalah ………………………………………………………………      2

BAB II ISI …………………………………………………………………………….      3

2.1  Budaya Akademik …………………………………………………………..      3

a.    Pengetahuan Budaya Akademik ………………………………………..      3

b.    Pembahasan Tentang Budaya akademik ……………………………..      4

c.    Prinsip Dasar Budaya Akademik atau
Standar Suasana Akademik ……………………………………………….      6

d.    Meningkatkan Budaya Akademik / SDM Mahasiswa …………….      7

e.    Kesadaran Kritis dan Budaya Akademik …………………………….      7

2.2  Etos Kerja ………………………………………………………………………      9

a.    Pengartian Etos Kerja ……………………………………………………….      9

b.    Konsep Kerja Dalam Agama ……………………………………………..      10

c..   Fungsi dan Tujuan Etos Kerja ……………………………………………      11

BAB III PENUTUP ………………………………………………………………..      12

5.1 Kesimpulan …………………………………………………………………….      12

5.2  Saran ……………………………………………………………………………..      12

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………………..      13

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN



1.1  Latar Belakang

Budaya merupakan sesuatu yang berpangakal dari manusia, sebagai insan yang diciptakan Tuhan memiliki kemampuan ‘akal budi’ sebagai salah satu yang membedakan manusia dengan makluk ciptaan  lainya. Sebagai makhluk yang memiliki akal budi itulah yang menyebabkan manusia sebagai makhluk yang berbudaya yang mampu menyadari dirinya dan memiliki daya kreasi inovasi. Hakekat akal budi dan tanggung jawab memiliki hubungan yang sangat erat , seperti hak dan kewajiban yang sama-sama saling melengkapi, Akal budi pada satu sisi adalah hak yang berasal dari karunia tuhan untuk melaksanakan tanggung jawab, oleh karena itu akal budi tidak boleh diartikan sebagai hak yang bisa dipergunakan semau-maunya, malainkan hak dalam hal ini untuk melaksanakan kewajiban memenuhi panggilan untuk menjaga dan melestarikan ciptaanya.

Dunia perguruan tinggi yang dikenal sebagai komunitas yang senantiasa menjunjung tinggi obyektifitas, kebenaran ilmiah dan keterbukaan mempunyai tanggung jawab dalam mengembangkan ilmu pengetahuan sebagai jawaban dari permasalahan yang muncul di masyarakat dengan metode yang modern. Ilmu pengatahun sendiri merupakan pengetahuan yang sistematik, rasional, empiris, umum dan komulatif yang dihasilkan oleh akal pikiran manusia yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Tugas ini menjadi penting karena merupakan bagian dari pelaksanaan “Tri Dharma” perguruan tinggi. Dan menjadi lebih penting karena ada 3 fungsi ilmu pengetahuan yang sangat terkait dengan kelangsungan dan kemaslahatan hidup orang banyak, yaitu fungsi eksplanatif (menerangkan gejala atau problem), prediktif (meramalkan kejadian atau efek gejala) dan control (mengendalikan atau mengawal perubahan yang terjadi di masa datang).

Untuk dapat mewujudkan “Tri Dharma” dalam perguruan tinggi sangatlah sulit dan memungkinan untuk gagal pun sangat besar, dan untuk mewujudkan ke tiga fungsi itu berjalan dengan baik dibutuhkan etos kerja yang sangat kuat untuk berhasil. Maka tidak dapat diabaikan etos kerja merupakan bagian yang patut menjadi perhatian dalam keberhasilan Mahasiswa dalam merintis karier di kehidupan bermasyarakat. Namun Etos kerja seseorang erat kaitannya dengan kepribadian, perilaku, dan karakternya. Untuk itu mahasiswa harus memiliki internal being yang mampu merumuskan siapa dia. Selanjutnya internal being menetapkan respon, atau reaksi terhadap tuntutan external. Respon internal being terhadap tuntutan external dunia kerja akan menetapkan etos kerja seseorang.

Dalam makalah ini, kelompok kami akan membahas lebih jauh tentang Budaya Akademik menurut Agama dan Etos Kerja menurut Agama.

 

 

1.2    Tujuan

Melalui makalah ini, kami berharap dapat berbagi pengetahuan tentang Budaya Akademik dan Budaya Etos Kerja menurut agama sehingga makalah ini dapat dijadikan sebagai salah satu bacaan alternatif bagi mahasiswa yang ingin menambah pengetahuan tentang pandangan agama terhadap beberapa budaya.

1.3    Batasan Masalah

Karena keterbatasan dalam materi serta informasi yang didapat, maka makalah ini dititik beratkan hanya pada pengertian budaya, serta pandangan Agama terhadap beberapa budaya seperti budaya akademik dan etos kerja.


 

BAB II

BUDAYA AKADEMIK DAN ETOS KERJA

2.1        Budaya Akademik

  1. a.      Pengertian Budaya Akademik.

Cara hidup masyarakat ilmiah yang majemuk, multikultural yang bernaung dalam sebuah institusi yang mendasarkan diri pada nilai-nilai kebenaran ilmiah dan objektifitas.Budaya Akademik (Academic Culture) dapat dipahami sebagai suatu totalitas dari kehidupan dan kegiatan akademik yang dihayati, dimaknai dan diamalkan oleh warga masyarakat akademik, di lembaga pendidikan tinggi dan lembaga penelitian.

Kehidupan dan kegiatan akademik diharapkan selalu berkembang, bergerak maju bersama dinamika perubahan dan pembaharuan sesuai tuntutan zaman. Perubahan dan pembaharuan dalam kehidupan dan kegiatan akademik menuju kondisi yang ideal senantiasa menjadi harapan dan dambaan setiap insan yang mengabdikan dan mengaktualisasikan diri melalui dunia pendidikan tinggi dan penelitian, terutama mereka yang menggenggam idealisme dan gagasan tentang kemajuan. Perubahan dan pembaharuan ini hanya dapat terjadi apabila digerakkan dan didukung oleh pihak-pihak yang saling terkait, memiliki komitmen dan rasa tanggung-jawab yang tinggi terhadap perkembangan dan kemajuan budaya akademik.

Budaya akademik sebenarnya adalah budaya universal. Artinya, dimiliki oleh setiap orang yang melibatkan dirinya dalam aktivitas akademik. Membangun budaya akademik bukan perkara yang mudah. Diperlukan upaya sosialisasi terhadap kegiatan akademik, sehingga terjadi kebiasaan di kalangan akademisi untuk melakukan norma-norma kegiatan akademik tersebut.   Pemilikan budaya akademik ini seharusnya menjadi idola semua insan akademisi perguruaan tinggi, yakni dosen dan mahasiswa. Derajat akademik tertinggi bagi seorang dosen adalah dicapainya kemampuan akademik pada tingkat guru besar (profesor). Sedangkan bagi mahasiswa adalah apabila ia mampu mencapai prestasi akademik yang setinggi-tingginya.

Khusus bagi mahasiswa, faktor-faktor yang dapat menghasilkan prestasi akademik tersebut ialah terprogramnya kegiatan belajar, kiat untuk berburu referensi aktual dan mutakhir, diskusi substansial akademik, dsb. Dengan melakukan aktivitas seperti itu diharapkan dapat dikembangkan budaya mutu (quality culture) yang secara bertahap dapat menjadi kebiasaan dalam perilaku tenaga akademik dan mahasiswa dalam proses pendidikan di perguruaan tinggi. Oleh karena itu, tanpa melakukan kegiatan-kegiatan akademik, mustahil seorang akademisi akan memperoleh nilai-nilai normative akademik. Bisa saja ia mampu berbicara tentang norma dan nilai-nilai akademik tersebut didepan forum namun tanpa proses belajar dan latihan, norma-norma tersebut tidak akan pernah terwujud dalam praktik kehidupan sehari-hari. Bahkan sebaliknya, ia tidak segan-segan melakukan pelanggaran dalam wilayah tertentu, baik disadari ataupun tidak.  Kiranya, dengan mudah disadari bahwa perguruan tinggi berperan dalam mewujudkan upaya dan pencapaian budaya akademik tersebut. Perguruan tinggi merupakan wadah pembinaan intelektualitas dan moralitas yang mendasari kemampuan penguasaan IPTEK dan budaya dalam pengertian luas disamping dirinya sendirilah yang berperan untuk perubahan tersebut.

  • Berarti budaya akademik :

1.  Mahasiswa yang terlibat dalam berbagai bidang studi dan keahlian (disiplin ilmu).

2.  Bernaung dibawah Institusi Educative (Perguruan Tinggi) yaitu:

– Akademi

– Universitas

– Sekolah Tinggi

– Institut, dll

3.  Memfokuskan diri pada kajian Ilmu, Penelitian, Penemuan dan sebagainya secara ilmiah.

4.  Untuk pengembangan ilmu baru dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat atau Perguruan Tinggi yang mendorong mahasiswa melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat).

 

  1. b.      Pembahasan Tentang Budaya Akademik

Dari berbagai Forum terbuka tentang pembahasan Budaya Akademik yang berkembang di Indonesia, menegaskan tentang berbagai macam pendapat di antaranya :

1)      Konsep dan Ciri-Ciri Perkembangan Budaya Akademik.

Dalam situasi yang sarat idealisme, rumusan konsep dan pengertian tentang Budaya Akademik yang disepakati oleh sebagian besar responden adalah budaya atau sikap hidup yang selalu mencari kebenaran ilmiah melalui kegiatan akademik dalam masyarakat akademik, yang mengembangkan kebebasan berpikir, keterbukaan, pikiran kritis-analitis, rasional dan obyektif oleh warga masyarakat yang akademik. Konsep dan pengertian tentang Budaya Akademik tersebut didukung perumusan karakteristik perkembangannya yang disebut “Ciri-Ciri Perkembangan Budaya Akademik” yang meliputi berkembangnya :

(1) penghargaan terhadap pendapat orang lain secara obyektif

(2) pemikiran rasional dan kritis-analitis dengan tanggungjawab moral

(3) kebiasaan membaca

(4) penambahan ilmu dan wawasan

(5) kebiasaan meneliti dan mengabdi kepada masyarakat

(6) penulisan artikel, makalah, buku

(7) diskusi ilmiah

(8) proses belajar-mengajar, dan

(9) manajemen perguruan tinggi yang baik

 

2)      Tradisi Akademik

Pemahaman mayoritas responden mengenai Tradisi Akademik adalah tradisi yang menjadi ciri khas kehidupan masyarakat akademik dengan menjalankan proses belajar-mengajar antara dosen dan mahasiswa, menyelenggarakan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta mengembangkan cara-cara berpikir kritis-analitis, rasional dan inovatif di lingkungan akademik.

Tradisi menyelenggarakan proses belajar-mengajar antara guru dan murid, antara pandito dan cantrik, antara kiai dan santri sudah mengakar sejak ratusan tahun yang lalu, melalui lembaga-lembaga pendidikan seperti padepokan dan pesantren. Akan tetapi tradisi-tradisi lain seperti menyelenggarakan penelitian adalah tradisi baru. Demikian pula, tradisi berpikir kritis-analitis, rasional dan inovatif adalah kemewahan yang tidak terjangkau tanpa terjadinya perubahan dan pembaharuan sikap mental dan tingkah laku yang harus terus-menerus diinternalisasikan dan disosialisasikan dengan menggerus sikap mental paternalistik dan ewuh-pakewuh yang berlebih-lebihan pada sebagian masyarakat akademik yang mengidap tradisi lama, terutama dalam paradigma patron-client relationship yang mendarah daging.

 

3)      Kebebasan Akademik

Pengertian tentang “Kebebasan Akademik” yang dipilih oleh 144 orang responden adalah Kebebasan yang dimiliki oleh pribadi-pribadi anggota sivitas akademika (mahasiswa dan dosen) untuk bertanggungjawab dan mandiri yang berkaitan dengan upaya penguasaan dan pengembangan Iptek dan seni yang mendukung pembangunan nasional. Kebebasan akademik meliputi kebebasan menulis, meneliti, menghasilkan karya keilmuan, menyampaikan pendapat, pikiran, gagasan sesuai dengan bidang ilmu yang ditekuni, dalam kerangka akademis.

Kebebasan Akademik mengiringi tradisi intelektual masyarakat akademik, tetapi kehidupan dan kebijakan politik acapkali mempengaruhi dinamika dan perkembangannya. Dalam rezim pemerintahan yang otoriter, kiranya kebebasan akademik akan sulit berkembang. Dalam kepustakaan internasional kebebasan akademik dipandang sebagai inti dari budaya akademik dan berkaitan dengan kebebasan.

Dalam masyarakat akademik di Indonesia, kebebasan akademik yang berkaitan dengan kebebasan berpendapat telah mengalami penderitaan yang panjang, selama puluhan tahun diwarnai oleh pelarangan dan pembatasan kegiatan akademik di era pemerintahan Suharto. Kini kebebasan akademik telah berkembang seiring terjadinya pergeseran pemerintahan dari Suharto kepada Habibie, dan makin berkembang begitu bebas pada pemerintahan Abdurrahman Wahid, bahkan hampir tak terbatas dan tak bertanggungjawab, sampai pada pemerintahan Megawati, yang makin sulit mengendalikan perkembangan kebebasan berpendapat.  Selain itu, kebebasan akademik kadangkala juga berkaitan dengan sikap-sikap dalam kehidupan beragama yang pada era dan pandangan keagamaan tertentu menimbulkan hambatan dalam perkembangan kebebasan akademik, khususnya kebebasan berpendapat. Dapat dikatakan bahwa kebebasan akademik suatu masyarakat-bangsa sangat tergantung dan berkaitan dengan situasi politik dan pemerintahan yang dikembangkan oleh para penguasa. Pelarangan dan pembatasan kehidupan dan kegiatan akademik yang menghambat perkembangan kebebasan akademik pada lazimnya meliputi :

(1) penerbitan buku tertentu

(2) pengembangan studi tentang ideologi tertentu, dan

(3) pengembangan kegiatan kampus, terutama demonstrasi dan diskusi yang bertentangan   dengan ideologi dan kebijakan pemerintah atau Negara

 

  1. c.       Prinsip Dasar Budaya Akademik atau Standar Suasana Akademik Yang  Kondusif.

 

1. Prinsip kebebasan berfikir (kebebasan dalam ilmiah)

2. Prinsip kebebasan berpendapat

Prinsip kebebasan mimbar akademik yang dinamis, terbuka dan ilmiah, sesuai dengan yang diamanatkan dalam UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Dalam implementasinya :

  1. Harus dibangun suasana akademik dengan prinsip :
    1. Interaksi mahasiswa dengan dosen harus dalam bentuk mitra bukan dalam bentuk in-loco parentis (Dosen otoritas, superior, Mahasiswa kerdil dan tidak ada apa-apa).
    2. Secara bersama-sama dosen dan mahasiswa punya hak yang sama dalam keilmuan dan penelitian, diciptakan secara terencana, sistematis, kontinu, terbuka, objektif, ilmiah.
    3. Harus diciptakan suasana Perguruan Tinggi yang kondusif yang dapat memberikan ketenangan, kenyamanan, keamanan dalam proses belajar mengajar (kegiatan akademik).

 

  1. Visi dan misi Perguruan Tinggi  yang khas spesifik sampai eksklusif.

 

  1. Mengarah kepada prinsip-prinsip good govermance sesuai dengan kebutuhan use, stakeholders.

 

  1. d.      Meningkatkan Budaya Akademik / SDM Mahasiswa
    1. Menitik beratkan pada Plan, Do, Check, Action (PDCA)
  • Plan =  rencana yang tepat, matang dalam setiap aktifitas proses belajar  mengajar
  • Do   = dilaksanakan secara optimal, maksimal dan berkesinambungan
  • Check =  ada upaya komperatif, sinergi dan sinkronisasi yang diinginkan dan tujuan
  • Action =  ada evaluasi dan gambaran yang logis, ilmiah sehingga dijadikan tolak ukur keberhasilan dan kegagalan.
  1. Adanya Interaksi kegiatan kurikuler yang terstruktur tepat, baik pada beban kurikulum dan jumlah serta bobot SKS mata kuliah.
  2. Model manajemen yang baik dan terstruktur yang mampu mensinkronisasikan antara tujuan pribadi (mahasiswa) dengan visi, misi dan tujuan Perguruan Tinggi, pangsa pasar.
  3. Tersedianya sarana, prasarana dan sumber daya (dosen, karyawan) yang memadai.

 

  1. e.       Kesadaran Kritis Dan Budaya Akademik

 

Merujuk pada redaksi UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas Bab VI bagian ke empat pasal 19 bahwasanya mahasiswa itu sebenarnya hanya sebutan akademis untuk siswa/ murid yang telah sampai pada jenjang pendidikan tertentu dalam masa pembelajarannya. Sedangkan secara harfiah, mahasiswa” terdiri dari dua kata, yaitu Maha yang berarti tinggi dan Siswa yang berarti subyek pembelajar sebagaimana pendapat Bobbi de porter, jadi kaidah etimologis menjelaskan pengertian mahasiswa sebagai pelajar yang tinggi atau seseorang yang belajar di perguruan tinggi/ universitas.

Namun jika kita memaknai mahasiswa sebagai subyek pembelajar saja, amatlah sempit sebab meski diikat oleh suatu definisi study, akan tetapi mengalami perluasan makna mengenai eksistensi dan peran yang dimainkan dirinya. Kemudian pada perkembangan selanjutnya, mahasiswa tidak lagi diartikan hanya sebatas subyek pembelajar (study), akan tetapi ikut mengisi definisi learning. Mahasiswa adalah seorang pembelajar yang tidak hanya duduk di bangku kuliah kemudian mendengarkan tausiyah dosen, lalu setelah itu pulang dan menghapal di rumah untuk menghadapi ujian tengah semester atau Ujian Akhir semester. Mahasiswa dituntut untuk menjadi seorang simbol pembaharu dan inisiator perjuangan yang respect dan tanggap terhadap isu-isu sosial serta permasalahan umat manusia.

Apabila kita melakukan kilas balik, melihat sejarah, peran mahasiswa acapkali mewarnai perjalanan bangsa Indonesia, mulai dari penjajahan hingga kini masa reformasi. Mahasiswa bukan hanya menggendong tas yang berisi buku, tapi mahasiswa turut angkat senjata demi kedaulatan bangsa Indonesia. Dan telah menjadi rahasia umum, bahwasanya mahasiswa lah yang menjadi pelopor restrukturisasi tampuk kepemimpinan NKRI pada saat reformasi 1998. Peran yang diberikan mahasiswa begitu dahsyat, sehingga sendi-sendi bangsa yang telah rapuh, tidak lagi bisa ditutup-tutupi oleh rezim dengan status quonya, tetapi bisa dibongkar dan dihancurkan oleh Mahasiswa.

Mencermati alunan sejarah bangsa Indonesia, hingga kini tidak terlepas dari peran mahasiswa, oleh karena itu mahasiswa dapat dikategorikan sebagai Agent of social change (Istilah August comte) yaitu perubah dan pelopor ke arah perbaikan suatu bangsa. Kendatipun demikian, paradigma semacam ini belumlah menjadi kesepakatan bersama antar mahasiswa (Plat form ), sebab masih ada sebagian madzhab mahasiswa yang apriori ( cuek ) terhadap eksistensi dirinya sebagai seorang mahasiswa, bahkan ia tak mau tahu menahu tentang keadaan sekitar lingkungan masyarakat ataupun sekitar lingkungan kampusnya sendiri. Yang terpenting buat mereka adalah duduk dibangku kuliah menjadi kambing conge dosen, lantas pulang duluan ke rumah.

Inikah mahasiswa ? Padahal, mahasiswa adalah sosok yang semestinya kritis, logis, berkemauan tinggi, respect dan tanggap terhadap permasalahan umat dan bangsa, mau bekerja keras, belajar terus menerus, mempunyai nyali (keberanian yang tinggi) untuk menyatakan kebenaran, aplikatif di lingkungan masyarakat serta spiritualis dan konsisten dalam mengaktualisasikan nilai-nilai ketauhidan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Dengan Konsep itulah, mahasiswa semestinya bergerak dan menyadari dirinya akan eksistensi ke-mahahasiswaan nya itu. Belajar tidaklah hanya sebatas mengejar gelar akademis atau nilai indeks prestasi ( IP ) yang tinggi dan mendapat penghargaan cumlaude, lebih dari itu mahasiswa harus bergerak bersama rakyat dan pemerintah untuk membangun bangsa, atau paling tidak dalam lingkup yang paling mikro, ada suatu kemauan untuk mengembangkan civitas/ perguruan tinggi dimana ia kuliah. Misalnya dengan ikut serta/ aktif di Organisasi Mahasiswa, baik itu Organisasi intra kampus ( BEM dan UKM ) ataupun Organisasi Ekstra kampus, serta aktif dalam kegiatan-kegiatan lain yang mengarah pada pembangunan bangsa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.2  Etos Kerja

 

a. Pengertian Etos Kerja

Etos berasal dari bahasa Yunani (etos) yang memberikan arti sikap, kepribadian, watak, karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu, tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat .

Dalam kamus besar bahasa Indonesia etos kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau sesesuatu kelompok.

Secara terminologis kata etos adalah yang mengalami perubahan makna yang meluas.

Digunakan dalam tiga pengertian yang berbeda yaitu:

  • Suatu aturan umum atau cara hidup
  • Suatu tatanan aturan perilaku.
  • Penyelidikan tentang jalan hidup dan seperangkat aturan tingkah laku .

 

Dalam pengertian lain, etos dapat diartikan sebagai thumuhat yang berkehendak atau berkemauan yang disertai semangat yang tinggi dalam rangka mencapai cita-cita yang positif. Dan etos adalah sikap yang tetap dan mendasar yang melahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dalam pola hubungan antara manusia dengan dirinya dan diluar dirinya .

Maka, Etos berarti watak atau karakter seorang individu atau kelompok manusia yang berupa kehendak atau kemauan yang disertai dengan semangat yang tinggi guna mewujudkan sesuatu keinginan atau cita-cita.

Etos kerja adalah refleksi dari sikap hidup yang mendasar maka etos kerja pada dasarnya juga merupakan cerminan dari pandangan hidup yang berorientasi pada nilai nilai yang berdimensi transenden.

Menurut K.H. Toto Tasmara etos kerja adalah totalitas kepribadian dirinya serta caranya mengekspresikan, memandang, meyakini dan memberikan makna ada sesuatu, yang mendorong dirinya untuk bertindak dan meraih amal yang optimal (high Performance) .

Dengan demikian adanya etos kerja pada diri seseorang Mahasiswa akan lahir semangat untuk menjalankan perkuliahan dengan sungguh-sungguh, adanya keyakinan bahwa dengan berusaha secara maksimal maka hasil yang akan didapat tentunya maksimal pula. Dengan etos kerja tersebut jaminan keberhasilan seorang mahasiswa akan didapat secara optimal baik secara nilai akdemik maupun keberhasilan dalam bermasyarakat nantinya.

 

 

 

 

 

b. Konsep Kerja menurut Pandangan Agama

 

Kemuliaan seorang manusia itu bergantung kepada apa yang dilakukannya. Dengan itu, sesuatu amalan atau pekerjaan yang mendekatkan seseorang kepada Allah adalah sangat penting serta patut untuk diberi perhatian. Amalan atau pekerjaan yang demikian selain memperoleh keberkahan serta kesenangan dunia, juga ada yang lebih penting yaitu merupakan jalan atau tiket dalam menentukan tahap kehidupan seseorang di akhirat kelak, apakah masuk golongan ahli syurga atau sebaliknya.

            Istilah ‘kerja’ dalam Islam bukanlah semata-mata merujuk kepada mencari rezeki untuk menghidupi diri dan keluarga dengan menghabiskan waktu siang maupun malam, dari pagi hingga sore, terus menerus tak kenal lelah, tetapi kerja mencakup segala bentuk amalan atau pekerjaan yang mempunyai unsur kebaikan dan keberkahan bagi diri, keluarga dan masyarakat sekelilingnya serta negara. Dengan kata lain, orang yang berkerja adalah mereka yang menyumbangkan jiwa dan enaganya untuk kebaikan diribukanlah semata-mata merujuk kepada mencari rezeki untuk menghidupi diri dan keluarga dengan menghabiskan waktu siang maupun malam, dari pagi hingga sore, terus menerus tak kenal lelah, tetapi kerja mencakup segala bentuk amalan atau pekerjaan yang mempunyai unsur kebaikan dan keberkahan bagi diri, keluarga dan masyarakat sekelilingnya serta negara. Dengan kata lain, orang yang berkerja adalah mereka yang menyumbangkan jiwa dan tenaganya untuk kebaikan diri, keluarga, masyarakat dan negara tanpa menyusahkan orang lain.

 

Dalam alkitab disebutkan tentang kekeluargaan, yang berbunyi :

“Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan,” (Amsal 6:23), oleh sebab itu “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” (Amsal 22:6).

 

Dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Umar r.a., berbunyi :

“Bahwa setiap amal itu bergantung pada niat, dan setiap individu itu dihitung berdasarkan apa yang diniatkannya”

 

Dalam riwayat lain, Rasulullah SAW bersabda :

“Binasalah orang-orang Islam kecuali mereka yang berilmu. Maka binasalah golongan berilmu, kecuali mereka yang beramal dengan ilmu mereka. Dan binasalah golongan yang beramal dengan ilmu mereka kecuali mereka yang ikhlas. Sesungguhnya golongan yang ikhlas ini juga masih dalam keadaan bahaya yang amat besar”

 

Dalam firman tuhan dan hadist diatas sudah cukup menjelaskan betapa niat yang disertai dengankeikhlasanitulah inti sebenarnya dalam kehidupan dan pekerjaan manusia. Alangkah baiknya orang yang beriman, dapat bergerak dan bekerja dengan tekun dan mempunyaitujuan yang satu, yaitu mengasihi tuhan, sesama manusia, dan diri kita sendiri. Dari situlah akan lahir nilai keberkahan yangsebenarnya dalam kehidupan yang penuh dengan curahan rahmat dan nikmat yangbanyak dari Allah.

 

  1. a.      Fungsi dan Tujuan Etos Kerja

 

Secara umum, Etos kerja berfungsi sebagai alat penggerak tetap perbuatan dan kegiatan individu. Menurut A. Tabrani Rusyan, fungsi etos kerja adalah:

  • Pendorang timbulnya perbuatan.
  • Penggairah dalam aktivitas.
  • Penggerak, seperti mesin bagi mobil besar kecilnya motivasi akan

menentukan cepat lambatnya suatu perbuatan.

 

Kerja merupakan perbuatan melakukan pekerjaan atau menurut kamus W.J.S Purwadaminta, kerja berarti melakukan sesuatu, sesuatu yang dilakukan. Kerja memiliki arti luas dan sempit dalam arti luas kerja mencakup semua bentuk usaha yang dilakukan manusia, baik dalam hal materi maupun non materi baik bersifat intelektual maupun fisik, mengenai keduniaan maupun akhirat. Sedangkan dalam arti sempit, kerja berkonotasi ekonomi yang persetujuan mendapatkan materi. Jadi pengertian etos adalah karakter seseorang atau kelompok manusia yang berupa kehendak atau kemauan dalam bekerja yang disertai semangat yang tinggi untuk mewujudkan cita-cita.

Nilai kerja dalam Agama dapat diketahui dari tujuan hidup manusia yang kebahagiaan hidup di dunia untuk akhirat, kebahagian hidup di akhirat adalah kebahagiaan sejati, kekal untuk lebih dari kehidupan dunia, sementara kehidupan di dunia dinyatakan sebagai permainan, perhiasan lading yang dapat membuat lalai terhadap kehidupan di akhirat. Manusia sebelum mencapai akhirat harus melewati dunia sebagai tempat hidup manusia untuk sebagai tempat untuk mancari kebahagiaan di akhirat. Ahli-ahli Tasawuf mengatakan: “Untuk mencapai kebahagiaan di akhirat, manusia harus mempunyai bekal di dunia dan di manapun manusia menginginkan kebahagiaan”.

Manusia berbeda-beda dalam mengukur kebahagiaan, ada yang mengukur banyaknya harta, kedudukan, jabatan, wanita, pengetahuan dan lain-lain. Yang kenyataannya keadaan-keadaan lahiriah tersebut tidak pernah memuaskan jiwa manusia, bahkan justru dapat menyengsarakannya. Jadi dianjurkan di dunia tapi tidak melupakan kehidupan akhirat.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

 

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal.

 

  1. a.      Pandangan Agama terhadap Budaya :
    1. 1.      Budaya Akademik

Dari uraian di atas “hakekat” penyikapan IPTEK dalam kehidupan sehari-hari adalah memanfaatkan perkembangan IPTEK untuk meningkatkan martabat manusia dan meningkatkan kualitas ibadah kepada Tuhan.

  1. 2.      Etos Kerja

Etos kerja dalam arti luas menyangkut akan akhlak dalam pekerjaan. Untuk bisa menimbang bagaimana akhlak seseorang dalam bekerja sangat tergantung dari cara melihat arti kerja dalam kehidupan, cara bekerja dan hakikat bekerja. Dalam pandangan Agama, etos kerja betujuan untuk dua hal :

  • Mengasihi Sesama Manusia dan Mengasihi Tuhan
  •  Karakteristik pekerjaan mendatang,Berbagai trend telah memperlihatkan bahwa bentuk pekerjaan mendatang tak hanya mengandalkan fisik tetapi juga otak Agama  sudah mengajarkan dan mengajak manusia untuk berpikir, membandingkan dan menggunakan akal dalam menghayati kehidupan dan mengarungi samudera kehidupan.

 

3.2 Saran – saran

  1. Diharapkan dengan pembuatan makalah ini, pengetahuan yang dimiliki oleh penulis maupun para mahasiswa dapat bertambah luas tentang Pandangan Budaya Menurut Agama terutama Budaya Akademik, Etos kerja, Sikap Terbuka dan Adil, semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai acuan untuk mempelajari dan memahami mata kuliah ini.
  2. Sebaiknya para mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini lebih memperdalam pengetahuannya, karena dasar yang kokoh sangat penting untuk hasil yang maksimal di mata kuliah ini kedepannya nanti.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Pdt. Dr. Daniel Nuhamara,M.Th. dkk. 2007. Pendidikan Agama Kristen di Perguruan
Tinggi Umum
, Bandung : Bina Media Informasi

http://maknaartikel.blogspot.com/2010/01/budaya-akademik/survei.html

http://blogkita.info/budaya-akademik-2/

http://pustaka.wordpress.com/2007/01/06/48/

http://www.docstoc.com/docs/56994693/materi-agama-islam

http://id.wikipedia.org/wiki/Agama

http://prasetijo.wordpress.com/2009/05/11/pendekatan-budaya-terhadap-agama/

http://blog.uin-malang.ac.id/gudangmakalah/2011/04/17/pengertian-dan-tujuan-serta-
ruang-lingkup-ilmu-budaya-dasar/

http://renungan-harian-kita.blogspot.com/2009/06/iman-yang-tulus-ikhlas.html

http://renungan-harian-kita.blogspot.com/2010/03/gunakanlah-cara-kerja-tuhan.html

http://www.infogigi.com/Menghidupi-Firman-Tuhan-dalam-Dunia-Kerja.html

http://irfan-student.blogspot.com/2011/11/etos-kerja-dan-toleransi.html#.T1F67Xmz5mR

http://jurnal-sdm.blogspot.com/2010/10/etos-kerja-definisi-fungsi-dan-cara.html

http://www.docstoc.com/docs/80805450/Pendidikan-Karakter-dan-Budaya-Bangsa

 

 

 

 

 

 

Makalah kemampuan bersastra lisan dan tulis

Standard

IDENTIFIKASI KEMAMPUAN BERSASTRA PRODUKTIF LISAN DAN TULIS

Disusun Oleh :
1. Nofi Putri A W 292011121
2. Rintan Sari P 292011124
3. Winni Agustina 292011128
4. Febriana W S 292011129
5. Febrilia kusumawati 292011147
6. Mahendra Dicky 292011133
7. Frengky Sanjaya P 292011154

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA
2012/2013
PRAKATA
Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat, hidayah dan karunia-Nya, sehingga penyusun dapat menyusun makalah ini. Makala ini di susun guna untuk memenuhi tugas mata kuliah Berbahasa dan Bersastra Indonesia. Dalam makalah ini penyusun memilih judul yaitu “IDENTIFIKASI KEMAMPUAN BERSASTRA PRODUKTIF LISAN DAN TULIS” Penyusun berharap dengan adanya makalah ini akan dapat menambah wawasan bagi yang membaca.
Penyusun menyadari bahwa tanpa bantuan dari semua pihak, penyusun tidak mungkin dapat menyelesaikan makalah ini. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini perkenankanlah penyusun menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya atas dukungan dan kerjasama semua pihak selama pembuatan makalah ini , dengan penuh rasa hormat kepada:
1. Bapak Ignatius Purnomo, selaku dosen yang mengampu, mengarahkan, membimbing dan mendorong kepada penyusun dalam pembuatan makalah ini.
2. Orang tua yang telah memberikan dukungan, dan semangat kepada penyusun.
3. Teman-teman yang telah membantu memberikan dukungan dan masukan penyusunan makalah ini.
4. Pihak-pihak lain yang tidak dapat penyusun sebutkan satu per satu.
Penyusun menyadari bahwa dalam dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca akan penyusun terima dengan senang hati sehingga penyusun dapat memperbaikinya. Penyusun juga minta maaf apabila ada kata maupun kalimat yang tidak berkenan di hati pembaca.

Salatiga , 13 November 2012
Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
PRAKATA ii
DAPTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang Masalah 1
1.2 Rumusan Masalah 2
1.3 Tujuan Pembahasan 2

BAB II LANDASAN TEORI 3
2.1 Pengertian Kemampuan Bersastra Produktif Lisan
Dan ProduktifTulis 3
2.2 Jenis Kemampuan Bersastra Produktif Lisan
Dan Produktif Tulis 6

BAB III PEMBAHASAN 9
3.1 Mengembangkan Kemampuan Berbahasa Produktif Lisan
Dan Produktif Tulis 9
3.2 Memanfaatkan Kemampuan Berbahasa Produktif Lisan Dan
Produktif Tulis 12
3.3 Aktifitas Pengembangan Produktif Lisan
Dan Produktif Tulis 15
BAB IV PENUTUP 18
4.1 Kesimpulan 18
4.2 Saran 19
DAFTAR PUSTAKA 20

BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG MASALAH
Upaya pemahaman unsure-unsur dalam bacaan dan tulisan sastra tidak dapat dilepaskan dari masalah membaca. Sebab itu sebelum melakukan kegiatan apresiasi dalam rangka usaha memahami unsure-unsur intrinsik dalam teks sastra, masalah membaca dan menulis sedikit banyak harus dipahami oleh para calon apresiator. Menyadari kenyataan itu, dalam makalah ini sebelum membaca mempelajari paparan yang bersifat teoretis yang difungsikan sebagai kerangka analisis, terlebih dahulu diperkenalkan pada sejumlah masalah yang berkaitan dengan sastra produktif lisan dan tulis.
Pemahaman dan penguasaan tentang apresiasi sastra produktif sangat fungsional dan menunjang pelaksanaan tugas dan tanggungjawab Anda dalam menyukseskan amanah Kurikulum tentang apresiasi sastra. Tentu kita sepaham bahwa kualitas apresiasi sastra anak di SD antara lain ditentukan oleh taraf pemahaman dan pengalaman apresiasi sastra yang Anda miliki sebagai guru kelas. Oleh karena itu, perlu Anda kaji dan berlatih tentang materi-materi yang dapat diterapkan dalam mengapresiasi sastra anak-anak secara produktif. Untuk memperoleh pemahaman dan pengalaman bermakna tentang berbagai materi tersebut, silakan baca dengan sungguh-sungguh makalah berikut.

2. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang tersebut, dapat ditarik beberapa rumusan masalah yang berkaitan dengan, identfikasi kemampuan bersastra produktif, antara lain :
1. Apa itu pengertian dari kemampuan bersastra produktif lisan dan tulis ?
2. Apa saja jenis kemampuan bersastra produktif lisan dan tulis ?
3. Bagaimana cara mengembangkan kemampuan bersastra produktif lisan dan tulis ?
4. Apa manfaat pengembangan kemampuan bersastra produktif lisan dan tulis ?
5. Apa saja yang termasuk dalam aktivitas pengembangan kemampuan bersastra produktif lisan dan tulis ?

3. TUJUAN PEMBAHASAN
Dari rumusan masalah di atas, tujuan pembahasan tentang identfikasi kemampuan bersastra produktif lisan dan produktif tulis :
1. Untuk dapat mengerti apa itu kemampuan bersastra produktif lisan dan tulis.
2. Untuk dapat mengerti jenis kemampuan bersastra produktif lisan dan tulis.
3. Untuk mengetahui bagaimana cara mengembangkan kemampuan bersastra produktif lisan dan tulis.
4. Untuk mengetahui apa saja manfaat pengembangan kemampuan bersastra produktif lisan dan tulis.
5. Untuk mengetahui apa saja yang termasuk dalam aktivitas pengembangan kemampuan bersastra produktif lisan dan tulis.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Kemampuan Bersastra Produktif
Kemampuan bersastra produktif adalah kemampuan untuk menghasilkan suatu jenis karya sastra yang ditujukan untuk menyampaikan hasil pikiran, ide-ide, dan penalarannya kepada orang lain. Kemampuan bersastra produktif dibagi menjadi dua, yaitu kemampuan bersastra produktif lisan ( berbicara ) dan kemampuan bersastra produktif tulis ( menulis ).

1. Kemampuan Bersastra Produktif Lisan
Pengertian kemampuan bersastra produktif lisan Sastra lisan merupakan karya sastra yang dapat kita temukan dalam masyarakat. Sastra lisan merupakan karya sastra yang beredar di masyarakat atau diwariskan secara turun-menurun dalam bentuk lisan. Dalam hal ini, sastra lisan dapat disebut sebagai folklor. Folk merupakan sebuah komunitas masyarakat tertentu yang memiliki ciri-ciri dan budaya yang sama. Sedangkan lore merupakan sebagian kebudayaan masyarakat yang disampaikan secara turun-menurun dalam bentuk lisan. Jadi, folklor atau sastra lisan adalah suatu kebudayaan yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat tertentu yang diperoleh secara turun-temurun dari mulut ke mulut secara lisan.
Sastra lisan yang dimiliki oleh suatu daerah tertentu, umumnya akan berbeda dengan yang lain. Bahkan dalam daerah yang bersangkutan terdapat kemungkinan tentang adanya versi. Hal ini tidak menjadi persoalan karena ciri khas dari sebuah karya sastra lisan adalah dengan adanya versi. Namun, hal yang menjadi perhatian kita adalah tentang keberadaan sastra lisan yang ada di daerah kita. Memang banyak peneliti yang telah mengkaji sastra lisan yang ada di Indonesia, tetapi masih banyak juga sastra lisan yang terlewatkan oleh peneliti.
Sastra lisan merupakan warisan budaya yang kita miliki. Sudah seharusnya kita sebagai bagian dari masyarakat untuk melestarikannya agar jangan sampai semua itu luntur. Sastra lisan merupakan kajian yang menarik jika kita mampu menelusuri lebih dalam tentang sebuah sastra lisan. Banyak hal yang terkandung dalam sebuah sastra lisan, tidak hanya mencakup makna simbolik, fungsi, serta nilai tetapi juga dapat kita kaji aspek strukturnya sebagaimana struktur dalan sebuah karya sastra. Seperti halnya dengan sebuah karya sastra, sastra lisan dapat ditafsirkan sebagai langkah untuk memperoleh pesan, makna, dan fungsi.
Sebagai contoh terdapat ungkapan endas gundul dikepeti, melu ngudek luluh yo kudu gelem reged, maupun ungkapan ora gopak pulut kok mangan nangkane. Sesuai dengan bahasa yang digunakan, ungkapan tersebut dipakai oleh masyarakat Jawa. Memang tidak semua masyarakat Jawa masih menggunakan, namun ungkapan ini masih dapat ditemui di daerah Trenggalek, Ponorogo dan sekitarnya. Jika dianalisis, maka tiap ungkapan tersebut memiliki pesan yang tersirat.
Pada ungkapan yang pertama yaitu endas gundul dikepeti, artinya sudah enak di enak-enakan lagi. Orang yang hidupnya sudah enak malah dimanja oleh orang lain. Biasanya ungkapan ini diucapkan kepada anak orang kaya yang dimanja. Atau orang kaya yang diperlakukan baik di bidang hukum. Kemudian ungkapan melu ngudek luluh yo kudu gelem reged. Ungkaan tersebut berarti ikut mencampur bahan betonnya harus mau kotor. Maksudnya jika kita ikut menyelesaikan masalah, maka kita juga harus berani menanggung resiko atau akibatnya. Diibaratkan demikian, karena orang yang ikut membangun bangunan itu harus sampai selesei dalam arti harus sampai jadi tidak ditinggal ditengah jalan ketika bangunan masih jadi separo dengan alasan takut kotor. Hal ini berlaku juga kalau kita membantu masalah teman atau orang lain harus sampaiselesi dan mau enanggung resiko apapun yang akan terjadi. Sedangkan ungkapan ora gopak pulut kok mangan nangkane berarti tidak ikut merasakan getahnya tetapi ikut makan buah nangkanya. Tidak ikut bersusah payah atau bekerja keras tetapi ikut menikmati hasilnya. Biasanya diucapkan pada orang yang sukanya enak-enakan tetapi ketika membagi hasil dia malah menyerobot orang lain.

Kemampuan bersastra lisan merupakan kegiatan membaca sastra lebih expresif. Sehingga seseorang tersebut harus menguasai aspek dasar berbahasa. Dalam hal ini, seseorang harus berkreasi untuk dapat mengeksprsikan teks. Sehingga apa yang mulanya berbentuk tulisan (teks) dapat “dihidupkan” dalam bentuk lisan dngan segala bentuk muatan emosi dan karakter . Selain itu bersastra produktif lisan adalah suatu aktifitas dimana seseorang mampu membaca dengan target menghidupkan teks dengan muatan emosi dan karakter lebih berkenaan dengan aktifiyas kreatif (berkesenian).
2. Kemampuan Bersastra Produktif Tulis
Sastra produktif tulis adalah sastra yang menggunakan tulisan atau literal. Menurut Sulastin Sutrisno (1985), awal sejarah sastra tulis melayu bisa dirunut sejak abad ke 7 M. berdassarkan penemuan prasasti bertuliskan huruf palawa peninggalan kerajaan Sriwijaya di Kedukan Bukit (683), Talang Tuwo(684), kota Kapur (686), dan Karang Brahi (686). Walaupun tuliskan pada prasati-prasati tersebut pendek-pendek, teteapi prasasti-prasati yang merupakan benda peninggalan sejarah itu dapat disebut sebagaiu cikal bakal lahirnya tradisi menulis atau sebuah bahasa yang dituangkan dalam bentuk tulisan.
Sastra tulis merupakan ciri sastra modern karena bahasa tulisan di anggap sebagai referensi peradapan masyarakat yang lebih maju. Menurut Ayu Sutarto(2004) dan Daniel Dakhidae (1996) tradisi sastra lisan menghambat bagi kemajuan bangsa. Maka, tradisi lisan harus diubah menjadi tradisi menulis. Karena budaya tulis menulis selalu identik dengan kemajuan beradaban keilmuan. Pendapat ini mungkin tidak keliru. Tapi, bukan berarti kita dengan begitu saja mengabaikan atau bahnakan meninggalkan tradisi sastra lisan yang sudah mengakar dan menjadi identitas cultural masing-masing suku didaerah keseluruhan Indonesia.
Pada akhirnya, proses pergeseran dari tradisi sastra lisan menuju sastra tulisan tidak dapat dihindari. Karena sadar atau tidak, bagaimanapun proses pertumbuhan sastra akan mengarah dan berusaha menemukan bentuk yang lebih maju dan lebih sempurna sebagaimana terjadi pada bidang yang lainnya. Karena proses perubahan seperti ini merupakan sebuah keniscayaan terutama dalam stuktur masyarakat yang dinamis.
Belum ditemukan data yang pasti, yang menunjukan kapan tepatnya tradisi sastra tulis dimulai. Sastra tulis yang tercerat dalam sejarah kesusastraan Indonesia mungkin bisa dikatakan dimulai sejak abad ke 20, yaitu pad periode pujangga lama. Dan kemudian mulai menunjukan wujudnya yang lebih nyata pada periode balai pustaka yang bisa disebut sebagai tonggak perkembangan sejarah kesustraan modern Indonesia. Dimana dengan lahirnya penerbit pertama di Indonesia bidang kesustraan mulai dikembangkan secara lebih terorganisir dan, pada periode berikutnya, terus berkembang lebih luas.

B. Jenis Kemampuan Bersastra Produktif Lisan dan Tulis
1. Jenis Kemampuan Bersastra Produktif Lisan
a. Berdasarkan Bentuk dan Isi:
1. Bahasa rakyat seperti logat, julukan, pangkat tradisional, dan titel kebangsawanan.
2. Ungkapan tradisional seperti peribahasa, pepatah, dan pemeo.
3. Pertanyaan tradisional seperti teka-teki.
4. Puisi rakyat yang terdiri dari: pantun, syair dan gurindam.
5. Cerita prosa, contohnya seperti mite, legenda, dan dongeng.
6. Nyanyian rakyat
b. Berdasarkan Pendekatan Apresiasi Sastra
1. Pendekatan Emotif
Pendekatan emotif merupakan pendekatan yang mengarahkan pembaca untuk mampu menemukan dan menikmati nilai keindahan (estetis) dalam suatu karya tertentu (rima, irama diksi), baik dari segi bentuk maupun dari segi isi. Kaitannnya dengan pendekatan emotif, Aminudin (2004: 42) mengemukakan bahwa: “pendekatan emotif adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukan unsur-unsur yang mengajuk emosi atau perasaan pembaca. Ajukan emosi itu berhubungan dengan keindahan penyajian bentuk maupun ajukan emosi yang berhubungan d]engan isi atau gagasan yang lucu atau menarik”. Pendekatan Emotif lebih menekankan terhadap nilai keindahan yang berkaitan keindahan bentuk:
• Rima
Merupakan pengindah puisi dalam bentuk pengulangan bunyi baik awal, tengah maupun akhir.
• Irama
Adalah alunan bunyi ketika membacakan kalimat demi kalimat dalam puisi.
• Diksi (pilihan kata)
• Mimik adalah peniruan ekspresi raut muka.
• Kinesik yakni gerakan tubuh seperti tangan, kaki, kepala, atau yang lainnya.
• Volume suara adalah tingkat keras lunaknya suara.
• Artikulasi adalah pengucapan kata harus jelas.
2. Pendekatan Didaktis
Pendekatan didaktis adalah suatu pendekatan yang berusaha mengemukakan dan memahami gagasan, tanggapan, evaluatif maupun sikap pengarang terhadap kehidupan. Gagasan, tanggapan maupun sikap itu dalam hal ini akan mampu terwujud dalam suatu pandangan etis, filosofis, maupun agamis sehingga akan mampu memperkaya kehidupan rohaniah pembaca.
2. Jenis kemampuan Bersastra Produktif Tulis
Sastra tertulis itu terbagi atas 4 jenis yaitu : Novel, Cerita/Cerpen, Syair, Pantun dan drama.
1. Novel
Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif; biasanya dalam bentuk cerita. Penulis novel disebut novelis.
2. Cerpen
Sebuah situasi yang digambarkan singkat yang dengan cepat tiba pada tujuannya, dengan parallel pada tradisi penceritaan lisan.
3. Syair
Syair adalah puisi atau karangan dalam bentuk terikat yang mementingkan irama sajak. Biasanya terdiri dari 4 baris, berirama aaaa, keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud penyair (pada pantun, 2 baris terakhir yang mengandung maksud).
4. Pantun
Salah satu jenis puisi lama , lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), bersajak akhir dengan pola a-b-a-b dan a-a-a-a (tidak boleh a-a-b-b, atau a-b-b-a).
5. Drama
Satu bentuk karya sastra yang memiliki bagian untuk diperankan oleh aktor. Drama juga terkadang dikombinasikan dengan musik dan tarian, sebagaimana sebuah opera.

BAB III
PEMBAHASAN

A. Mengembangkan Kemampuan Bersastra Produkti Lisan dan Produktif Tulis
1. Cara Pengembangan Kemampuan Bersastra Produktif Lisan
Sastra produktif dibagi menjadi 2 yaitu produktif lisan (berbicara) dan produktif tulis (mengarang/menulis). Jadi terdapat 2 kemampuan yang di butuhkan dalam membuat suatu karya sastra, yaitu kemampuan berbicara dan kemampuan mengarang.
Keterampilan berbicara lebih mudah dikembangkan apabila murid-murid memperoleh kesempatan untuk mengkomunikasikan sesuatu secara alami kepada orang lain,dalam kesempatan yang bersifat informal.
Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengembangkan kemampuan bersastra produktif Lisan , antara lain:
a. Curah gagasan atau curah pendapat
b. Menumbuhkan daya imajinasi
c. Menumbuhkan minat dan kemampuan siswa dalam hal sastra
Untuk dapat mengembangkan kemampuan bersastra seseorang juga harus mengembangkan kemampuan berkomunikasi agar apa yang disampaikan mampu diterima dan dipahami oleh para pendengarnya. Sehingga, untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi seeorang harus mempunyai potensi yang sekaligus sebagai keterampilan dalam komunikasi bahasa, yang dasarnya mencangkup 4 hal. Yaitu:
1. Menyimak (mendengarkan),
2. Membaca
3. Berbicara
4. Menulis.
Keempat hal tersebut selanjutnya disebut sebagai keterampilan berbahasa yang bergua dalam mengembangkan kamampuan bersastra.

2. Cara Pengembangan Kemampuan Bersastra Produktif Tulis
Ide-ide kreatif tentang penulisan sastra kreatif dikemukakan dengan menarik oleh Steven James. Dalam artikelnya yang berjudul Pump Up Your Creativity (2002), proses menulis karya sastra dapat dilakukan melalui beberapa cara :
1. Yang pertama adalah dengan Explore Your L.I.F.E. atau dengan Eksplorasilah L.I.F.E.-mu!.
L merupakan singkatan dari Literature. Maksudnya, proses kepenulisan harus diimbangi dengan banyak membaca karya sastra yang ada. Fungsinya tak lain adalah untuk menumbuhkan ide dan sebagai bentuk pembelajaran tentang teknik-teknik menulis dari berbagai pengarang. I merupakan singkatan dari Imagination. Maksudnya, imajinasi calon penulis harus dieksplorasi sebanyak mungkin. James menganjurkan untuk membebaskan imajinasi. F merupakan singkatan dari Folklore. Calon penulis dapat mengeksplorasi folkore atau sastra lisan yang dapat dijadikan inspirasi penulisan cerita. E merupakan singkatan dari experience atau pengalaman. Menulis bukanlah proses sekali jadi, melainkan melalui beberapa tahapan dan terkadang melewati beberapa pengalaman. Para siswa dianjurkan untuk mengasah kemampuan menulisnya dengan menulis sebanyak dan sesering yang mereka bias, sehingga mereka menjadi semakin terampil dan tulisan mereka menunjukkan peningkatan kualitas.

2. Kedua, Change Your Perspective atau Ubahlah Perspektifmu.
Mengapa proses menulis kadang dihindari atau dianggap sebagai suatu kegiatan yang tidak bisa dilakukan oleh semua 9 orang? Hal itu, menurut James hanya mitos belaka dan harus segera diubah perspektifnya. Menulis bukan sesuatu hal yang sulit, namun hanya membutuhkan ketelatenan dan latihan. Menulis karya sastra pun demikian.

3. Ketiga, Let Serependity Happen atau Biarkan Hal-hal yang Tak Terduga Terjadi.
Jika seorang penulis kekurangan ide dan merasa kesulitan untuk menemukan ide, maka yang dapat dilakukan salah satunya adalah relaksasi sampai ditemukannya ide yang bisa menyambung cerita yang sementara terputus. Mengapa relaksasi itu penting? Karena, menurut James, mengkhawatirkan ketidakmampuan melanjutkan cerita secara terus-menerus bukanlah pemecahan yang baik. Berelaksasi merupakan salah satu cara yang selain rekreatif juga bias dimanfaatkan sebagai bentuk penggalian ide baru.

4. Keempat adalah Set Boundaries atau Membuat Perangkat Cerita.
Perangkat cerita ini antara lain penetuan tema, deadline penyelesaian cerita, panjang pendek cerita, genre yang akan ditulis, dsb. Seorang penulis perlu merencakan beberapa penentuan itu sebagai perngkat yang menjadi kemudi dari karya yang akan ditulisnnya.

5. Kelima adalah Look for Connections atau Mencari Hubungan.
Masalah kreativitas adalah masalah kemampuan untuk menggabungkan ide yang berbeda, pemikiran baru, dan mencoba mencari sesuatu hal yang baru. James menyarankan untuk berpikir secara metaforis sebagai upaya penemuan formula penyampaian cerita yang tidak biasa.

6. Keenam, Ask Stupid Questions atau Tanyakanlah Hal-hal yang Konyol. Mengajukan pertanyaan yang mungkin dapat dianggap konyol itu perlu dalam rangka mengetahui: adalah hal-hal yang tertinggal dari tulisan yang telah dibuat atau apa yang ingin diketahui oleh pembaca mengenai cerita anak? Bisa saja ada hal yang sebenarnya menarik atau ingin anak tulis tapi tertinggal atau lupa tidak anak tuliskan. Bagaimana anak tahu jika ada hal yang kurang dari tulisan? James menyarankan untuk menyerahkan karya anak kepada pembaca agar ia dapat mengomentari karya yang telah anak buat.

7. Terakhir atau ketujuh adalah Questions Your Direction atau Tentukan Tujuan Kepenulisanmu.
James menyarankan untuk menanyakan tujuan kepenulisan anak . Seorang penulis sebaiknya tidak merasa cukup puas hanya dengan karya yang telah dihasilkannya. Sebaliknya, seorang penulis perlu membuat tujuan ke depan dari proses kepenulisan yang telah dipilihnya.

B. Manfaat Pengembangan Kemampuan Bersastra Produktif Lisan dan Produktif Tulis
1. Manfaat Pengembangan Kemampauan Bersastra Produktif Lisan
Setiap sastra lisan atau folklor memiliki manfaat atau kegunaan di dalam masyarakat pemiliknya. Hal inilah yang menjadikan sastra lisan diminati dan dipertahankan oleh suatu komunitas masyarakat Pemiliknya.
Pendapat yang khusus membicarakan manfaat sastra lisan adalah yang dikemukakan oleh Danandjaja. mengatakan bahwa sajak rakyat bermanfaat sebagai :
a. Alat kendali sosial, (untuk hiburan),
b. Untuk memulai sesuatu permainan, dan,
c. Untuk menekan dan mengganggu orang lain.
Pendapat lainnya tentang manfaat sastra lisan menurut Hutomo adalah sebagai berikut:
a. Sebagai sistim proyeksi,
b. Untuk pengesahan kebudayaan,
c. Sebagai alat pemaksa berlakunya norma-norma sosial, dan sebagai alat pengendali sosial,
d. Sebagai alat pendidikan anak,
e. Untuk memberikan suatu jalan yang dibenarkan oleh masyarakat agar dia dapat lebih superior daripada orang lain,
f. Untuk memberikan seseorang jalan yang dibenarkan masyarakat agar dia dapat mencela orang lain,
g. Sebagai alat untuk memprotes ketidakadilan dalam masyarakat,
h. Untuk melarikan diri dari himpitan hidup, atau dengan kata lain berfungsi sebagai hiburan semata.
Sastra lisan juga berguna untuk media pendidikan masyarakat karena didalamnya terkandung berbagai amanah dan pesan penting yang juga harus dipahami oleh masyarakat.
a. Pelipur lara,yakni sastra lisan berfungsi sebagai penghibur dalam masyarakat. Banyak berbagai sastra lisan yang bertema humoris dan mengandung unsure pelipur lara. Misalnya dongeng si kancil yang sangat humoris dan kental akan imajinasi.
b. Protes sosial, yakni sastra lisan yang berkembang juga termasuk bentuk media pada jaman yang bersangkutan untuk menyampaikan apa yang menjadi aspirasi masyarakat. Sebuah cerite bisa mewakilkan isi hati masyarakat.
c. Sindiran, yakni sebuah ungkapan yang disampaikan oleh masyarakat dalam bentuk sastra lisan, misalnya lagu rakyat, pantun rakyat dan lain sebagainya.

Dalam melihat manfaat tradisi lisan atau folklor sebaiknya dikembalikan kepada masyarakat pemiliknya. Manfaat-manfaat tersebut bisa saja hilang atau hanya tinggal manfaat tertentu. Bertahan atau tidaknya manfaat itu tergantung pada sikap suatu masyarakat atas tradisi lisan atau folklor yang lahir dan berkembang dalam masyarakat tersebut. Manfaat tersebut di atas akan digunakan sesuai dengan objek kajian dalam penelitian ini. Artinya, landasan teori tersebut akan digunakan sebagai acuan yang aplikasinya sesuai dengan kondisi data.

2. Manfaat Pengembangan Kemampauan Bersastra Produktif Tulis
Menulis memiliki peran yang sangat penting bagi manusia yang selalu dituntut untuk bersosialisasi dengan orang lain, banyak manfaat yang bisa diperoleh dari aktivitas menulis. Komaidi (2007:12) menyebutkan beberapa manfaat dari aktivitas menulis sebagai berikut.
1) Kalau kita ingin menulis pasti menimbulkan rasa ingin tahu (curiocity) dan melatih kepekaan dalam melihat realitas di sekitar. Kepekaan dalam melihat suatu realitas lingkungan itulah yang kadang tidak dimiliki oleh orang yang bukan penulis.
2) Dengan kegiatan menulis mendorong kita untuk mencari referensi seperti buku, majalah, Koran, jurnal dan sejenisnya. Dengan membaca referensi-referensi tersebut tentu kita akan semakin bertambah wawasan dan pengetahuan kita tentang apa yang akan kita tulis.
3) Dengan aktivitas menulis, kita terlatih untuk menyusun pemikiran dan argumen kita secara runtut, sistematis dan logis.
4) Dengan menulis secara psikologis akan mengurangi tingkat ketegangan dan stres kita. Segala uneg-uneg, rasa senang, atau sedih bisa ditumpahkan lewat tulisan di mana dalam tulisan orang bisa bebas menulis tanpa diganggu atau diketahui oleh orang lain.
5) Dengan menulis di mana hasil tulisan kita dimuat oleh media massa atau diterbitkan oleh suatu penerbit kita akan mendapatkan kepuasan batin karena tulisannya dianggap bermanfaat bagi orang lain, selain itu juga memperoleh honorarium (penghargaan) yang membantu kita secara ekonomi.
6) Dengan menulis dimana tulisan kita dibaca oleh banyak orang (mungkin puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan) membuat sang penulis semakin popular dan dikenal oleh publik pembaca.

Pendapat di atas menunjukkan bahwa manfaat menulis adalah menimbulkan rasa ingin tahu, mencari referensi, aktivitas menulis, mengurangi tingkat ketegangan dan stres, dan bermanfaat bagi orang lain.
Hal serupa diungkapkan Hernowo (2005:81), manfaat menulis sebagai berikut.
1) Mengatasi ihwal ketidak tahuan.
2) Mengelola kepercayaan yang mengekang dan tidak tepat.
3) Mengendalikan rasa takut.
4) Memperbaiki perasaan kurang menghargai diri sendidri.
5) Mengusir rasa gengsi.
6) Mengatasi ihwal ketidak tahuan.
7) Mengelola kepercayaan yang mengekang dan tidak tepat.
8) Mengendalikan rasa takut.
9) Memperbaiki perasaan kurang menghargai diri sendidri.
10) Mengusir rasa gengsi.

Manfaat menulis yang diungkapkan Hernowo di atas yaitu mengatasi ketidaktahuan, maksudnya manfaat dari sering menulis sebagai penulis akan mengetahui letak kesalahan dari tulisan yang telah penulis tulis, mengelola kepercayaan yang mengekang dan tidak tepat, mengendalikan rasa takut, memperbaiki perasaan kurang menghargai perasaan diri sendiri dan mengusir rasa gengsi.
Hal yang berbeda diungkapkan Pennebaker dalam Hernowo (2005:54), manfaat menulis sebagai berikut.
1) Menulis menjernihkan pikiran.
2) Menulis mengatasi trauma.
3) Menulis membantu mendapatkan dan mengingat informasi baru.
4) Menulis membantu memecahkan masalah.
5) Menulis dengan bebas membantu ketika terpaksa harus menulis.

Manfaat menulis menurut Pennebeker adalah dengan seringnya menulis akan membuat pikiran jernih, mengatasi trauma dituangkan ke dalam tulisan, dengan menulis dapat membantu mendapatkan dan mengingat informasi baru, memecahkan masalah melalui sebuah tulisan karena semua yang ada dalam pikiran dituangkan ke dalam tulisan, dan terakhir manfaat menulis secara bebas dapat membantu ketika terpaksa harus menulis.
Semi (2007:4) berpendapat bahwa manfaat menulis dapat menimbulkan rasa ingin tahu (curiocity) dan melatih kepekaan dalam melihat realitas disekitar lingkungan itulah yang kadang tidak dimiliki oleh orang yang bukan penulis. Seseorang dalam menulis memiliki rasa ingin tahu dan melatih kepekaannya terhadap lingkungan sekitar.
Pendapat lain diemukakan oleh Laksana (2007:10), manfaat menulis dapat menambah wawasan, melatih diri untuk berpikir lebih baik dan memelihara akal sehat, manfaat menulis dapat memberikan kekuatan lisan dan kemahiran menulis dengan gerakan lidah dan penanya. Manfaat menulis menambah wawasan kita untuk berpikir lebih baik dan memelihara akal sehat.
Menurut Syamsudin (2005:3), manfaat menulis dapat membuat kegiatan yang produktif dan ekspresif sehingga tata tulis, struktur bahasa, dan kosakata dapat bermanfaat bagi penulis. Manfaat menulis dapat mamberikan pendapat, ide, dan pikiran melalui hasil tulisan.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan menulis memiliki manfaat yang sangat luas. Selain dapat mengenali kemampuan dan potensi diri, menulis merupakan cara menyampaikan pesan berupa pengetahuan, pikiran, perasaan, dan pengalaman kita kepada orang lain.

C. Aktivitas Pengembangan Kemampuan Bersastra Produktif Lisan dan Tulis

1. Aktivitas Pengembangan Kemampuan Bersastra Produktif Lisan
Kemampuan berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan dapat dikembangkan melalui pengembangan kemampuan bersastra sejak dini. Siswa sd dapat diperkenalkan pada berbagai jenis dan bentuk sastra anak melalui kegiatan mendengarkan, membaca dan menulis. Cara mengapresiasikan dan mengekspresikan sastra dapat dilakukan salah satunya melalui kegiatan melisankan hasil sastra berupa dongeng. Penyampaian isi pembelajaran bahasa melalui sastra lisan ini memungkinkan anak-anak mempelajari isi pembelajaran bahasa secara nyata atau alami, karena proses belajar mengajar yang alami akan memudahkan siswa untuk memahami pelajaran.
Pengembangan sastra lisan ini salah satunya dapat melalui teknik, cara atau metode bercerita atau mendongeng. Hasil penelitian Culinan (1998:10) memperlihatkan bahwa menyimak dan membacakan sebuah cerita yang baik dan bagus dapat mengembangkan kosa kata, mempertajam kepekaan terhadap bahasa dan memperhalus laras gaya bahasa lisan.
Selain itu dalam pendidikan formal yaitu Selama dalam kegiatan belajar disekolah yang dapat guru lakukan untuk menciptakan berbagai lapangan pengalaman yang memungkinkan murid-murid mengembangkan kemampuan bersastra produktif lisan. Kegiatan-kegiatan untuk melatih keterampilan berbicara siswa itu antara lain :

1. Menyajikan informasi
Salah satu bentuk kegiatan penyajian informasi adalah dengan berpidato. Tujuan kegiatan ini untuk menolong anak-anak : mengembangkan rasa percaya diri dalam berbicara dengan oranglain, belajar menyusun,dan menyajikan suatu pembicaraan, dan mempelajari cara yang terbaik untuk berbicara di hadapan sejumlah pendengar.

2. Berpartisipasi dalam diskusi
Diskusi kelompok merupakan tekhnik yang paling sering digunakan sebagai teknik pengembangan bahasa lisan yang menuntut kemampuan murid untuk membuat generalisasi dan mengajukan pendapat mengenai suatu topik atau permasalahan.

3. Berbicara untuk menghibur dan menyajikan pertunjukkan
Murid dapat menyajikan pertunjukan untuk teman atau teman sekelas atau teman kelas lain, orangtua dan anggota masyarakat sekitar gedung sekolah. Mereka bisa menyajikan sandiwara boneka, bercerita atau membaca puisi secara kor atau berpartisipasi dalam pementasan drama.

2. Aktivitas Pengembangan Kemampuan Bersastra Produkif Tulis

1. Mencontoh huruf atau membuat kalimat pendek
Anak dapat mulai menggunakan huruf-huruf yang dikenalnya dalam menamakan suatu benda, dan menulis kata-kata yang pernah dipelajar atau pernah terekam dalam memori.
2. Menuliskan pengalaman pribadi
Didalam pengembangan ini anak dilatih untuk menulis pengalaman pribadi yang mereka alami dan ini dituangkan dalam bentuk tulisan.
3. Membuat puisi
Anak dapat mengekspresikan perasaan yang dituangkan kedalam bentuk puisi dengan kata lain anak dilatih untuk dapat mengarang menggunakan kata-kata indah.
4. Membuat cerpen
Melatih anak untuk dapat berimajinasi secara luas dan dituangkan dalam bentuk cerita.

BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Kemampuan bersastra produktif adalah kemampuan untuk menghasilkan suatu jenis karya sastra yang ditujukan untuk menyampaikan hasil pikiran, ide-ide, dan penalarannya kepada orang lain. Kemampuan bersastra produktif dibagi menjadi dua, yaitu kemampuan bersastra produktif lisan ( berbicara ) dan kemampuan bersastra produktif tulis ( menulis ).
2. Kemampuan bersastra produktif lisan yaitu suatu aktifitas dimana seseorang mampu menghasilkan karya sastra dalam bentuk lisan ( berbicara ) dengan target menghidupkan teks dengan muatan emosi dan karakter lebih berkenaan dengan aktifiyas kreatif (berkesenian). Sedangkan yang dimaksud dengan kemampuan bersastra produktif tulis adalah suatu aktifitas dimana seseorang mampu menghasilkan suatu karya sastra dalam bentuk tulisan ( literal ).
3. Jenis kemampuan bersastra produktif lisan dapat di golongkan berdasarkan bentuk isi dan Berdasarkan Pendekatan Apresiasi Sastra. Sedangan Jenis kemampuan Bersastra Produktif Tulis berdasarkan bentuk dan isinya itu terbagi atas 4 jenis yakni Novel, Cerita/Cerpen, Syair, Pantun dan drama.
4. Cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kemampuan bersastra produktif Lisan yaitu, Curah gagasan atau curah pendapat, Menumbuhkan daya imajinasi Menumbuhkan minat dan kemampuan siswa dalam hal sastra. Cara pengembangan kemampuan bersastra produktif tulis yaitu ada 7
5. Manfaat pengembangan kemampuan bersastra produktif lisan menurut Danandjaja, Hutomo dan Masyarakat. Manfaat pengembangan kemampuan bersastra produktif tulis menurut Komaidi, Hernowo, Pennebaker, Semi , Laksana dan Syamsudin.
6. Aktivitas pengembangan kemampuan bersastra produktif lisan yaitu : bisa mendengarkan, membaca, dan menulis dongeng ataupun karya sastra lainnya, berpidato, berdiskusi, dan Mereka juga bisa menyajikan sandiwara boneka, bercerita atau membaca puisi secara kor atau berpartisipasi dalam pementasan drama. Aktivitas pengembangan kemampuan bersastra produktif tulis Mencontoh huruf atau membuat kalimat pendek, Menuliskan pengalaman pribadi, Membuat puisi dan Membuat cerpen.

B. SARAN
Dari makalah ini, dapat diambil beberapa saran untuk mendukung pengembangan kemampuan bersastra Produktif, diantaranya :
Peran guru sekolah dasar di kelas-kelas tinggi sekolah dasar dalam meningkatkan kemampuan bersastra produktif lisan dan tulis ( berbicara dan menulis ) ialah memberikan kesempatan kepada murid-murid untuk saling menyampaikan pendapatnya secara lisan. Guru perlu memberikan dorongan kepada anak untuk mengemukakan pandangan dan pendapatnya. Kebiasaan untuk memperhatikan, memahami, dan menanggapi secara kritis pembicaraan orang lain perlu dikembangkan. Demikian juga anak-anak perlu diarahkan untuk dapat menyampaikan kritis yang konstruktif secara sopan, dan menerima kritik secara terbuka. Untuk itu guru perlu memberikan teladan sebagai pembicara yang efektif dan penulis yang kreatif.

DAFTAR PUSTAKA

Aminudin.1991.Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar baru.
Aminudin. 2000. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Anwar,Chairil.1987. Derai Dera Cemara. Jakarta: PT Dian Rakyat.
Drs.Haryadi,M.pd.1996.Peningkatan Keterampilan Berbahasa Indonesia. Departemen . Pendidikan dan Kebudayaan
Endraswara, Suwardi.2003. Membaca, Menulis, Mengajar Sastra. Sastra Berbasis Kompetensi. Yogyakarta: Kota Kembang.
Rofi’uddin Ahmad, dan Darmiyati Zuhdi. 1998. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi. Indonesia: Departeman Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.
http://syafar89.wordpress.com/2011/04/18/perbedaan-sastra-lisan-dan-sastra-tulis/diunduh/09-11-2012/14.47

http://sheltercloud.blogspot.com/2010/01/sastra-lisan-dan-sastra-tulisan.html/diunduh/09-11-2012/14.53

http://pjjpgsd.dikti.go.id/file.php/1/repository/dikti/Mata%20Kuliah%20Awal/Kajian%11/20Bahasa%20Indonesia%20SD/BAC/Unit_8.pdf/diunduh/09-11-2012/15.05

Kemampuan berbahasa dan bersastra Indonesia

Standard

1. Homonim adalah kata yang penulisan dan pengucapannya sama tetapi artinya berbeda. Contoh:
• saya sudah bisa menyetir mobil. (bisa = dapat)
• tetanggaku terkena bisa ular yang mematikan. (bisa = racun)
2. homofon adalah kata yang diucapkan sama tetapi berbeda dari segi maksud dan juga tulisan. Contoh:
• bang Toyib sedang menabung di Bank. (bang = kakak, Bank = kantor)
3. Homograf adalah kata yang sama ejaannya dengan kata lain, tetapi berbeda lafal dan maknanya. Contoh:
• Besok pagi saya akan apel pagi. (apel = upacara)
• Saya akan ke rumah Febri sambil membawa apel. (apel = buah)
4. Polisemi adalah suatu kata yang mempunyai makna lebih dari satu. Contoh:
• Saya masih mempunyai hubungan darah dengan keluarga Bu Ningrum. (darah = kekerabatan)
• Tubuhnya berlumuran darah setelah kepalanya terbentur tiang listrik. (darah = jaringan tubuh)
5. Sinonim adalah kata yang memiliki persamaan arti. Contoh:
• Mobil itu dibelinya secara kredit. (kredit = mengangsur)
6. Antonim adalah kata yang memiliki makna berlawanan. Contoh:
• Ayah membeli rumah baru setelah menjual sawahnya. (membeli >< menjual)
7. Hipernim adalah kata-kata yang mewakili banyak kata lain. Sedangkan Hiponim adalah kata-kata yang terwakili artinya oleh kata hipernim.
Contoh:
• Hantu: pocong, sundel bolong, kuntil anak, tuyul, dll. (hantu = hipernim, pocong, sundel bolong, kuntil anak, tuyul, dll = hiponim)
8. Kata umum adalah kata yang ruang lingkupnya luas dan dapat mencakup banyak hal. Sedangkan kata khusus adalah kata yang sempit/terbatas lingkupnya.
Contoh:
• Bel berbunyi panjang tanda pelajaran selesai. (berbunyi = hipernim)
• Bel berdering panjang tanda pelajaran selesai. (berdering = hiponim)

Mampir Gojek

Standard

 

 

“Meski kamu nggak eksis di Facebook/Twitter tapi kamu selalu eksis di Hati dan pikiranku, sayang!!!”

Cowok: yank, sini aku bedakin!!
Cewek: nggak ah..
Cowok: kenapa??
Cewek: takut nggak rata, yank..
Cowok: nanti kalo nggak rata aku ratain pakek pipiku, sayang!!
Cewek: hahahaha😀

“Aku suka ini tapi kamu suka itu, aku ingin begini tapi kamu ingin begitu. Aku dan kamu berbeda, kita nggak akan pernah sama karena kamu laki-laki dan aku perempuan”😀

Cewek: yank, aku pengen selalu seperti ini. Kamu jangan pernah berubah ya yank..
Cowok: bukannya aku nggak mau selalu seperti ini, tapi aku pengen berubah jadi suamimu yank!!

Cewek: yank, sejauh ini kamu tau perbedaan kita??
Cowok: ya pasti tau lah yank..
Cewek: apa??
Cowok: Aku pakek celana sedangkan kamu pakek rok, yank!!
Cewek: hhahahaha.. ciyus sayang!!!!!😀