Makalah kemampuan bersastra lisan dan tulis

Standard

IDENTIFIKASI KEMAMPUAN BERSASTRA PRODUKTIF LISAN DAN TULIS

Disusun Oleh :
1. Nofi Putri A W 292011121
2. Rintan Sari P 292011124
3. Winni Agustina 292011128
4. Febriana W S 292011129
5. Febrilia kusumawati 292011147
6. Mahendra Dicky 292011133
7. Frengky Sanjaya P 292011154

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA
2012/2013
PRAKATA
Puji syukur penyusun panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat, hidayah dan karunia-Nya, sehingga penyusun dapat menyusun makalah ini. Makala ini di susun guna untuk memenuhi tugas mata kuliah Berbahasa dan Bersastra Indonesia. Dalam makalah ini penyusun memilih judul yaitu “IDENTIFIKASI KEMAMPUAN BERSASTRA PRODUKTIF LISAN DAN TULIS” Penyusun berharap dengan adanya makalah ini akan dapat menambah wawasan bagi yang membaca.
Penyusun menyadari bahwa tanpa bantuan dari semua pihak, penyusun tidak mungkin dapat menyelesaikan makalah ini. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini perkenankanlah penyusun menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya atas dukungan dan kerjasama semua pihak selama pembuatan makalah ini , dengan penuh rasa hormat kepada:
1. Bapak Ignatius Purnomo, selaku dosen yang mengampu, mengarahkan, membimbing dan mendorong kepada penyusun dalam pembuatan makalah ini.
2. Orang tua yang telah memberikan dukungan, dan semangat kepada penyusun.
3. Teman-teman yang telah membantu memberikan dukungan dan masukan penyusunan makalah ini.
4. Pihak-pihak lain yang tidak dapat penyusun sebutkan satu per satu.
Penyusun menyadari bahwa dalam dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca akan penyusun terima dengan senang hati sehingga penyusun dapat memperbaikinya. Penyusun juga minta maaf apabila ada kata maupun kalimat yang tidak berkenan di hati pembaca.

Salatiga , 13 November 2012
Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
PRAKATA ii
DAPTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang Masalah 1
1.2 Rumusan Masalah 2
1.3 Tujuan Pembahasan 2

BAB II LANDASAN TEORI 3
2.1 Pengertian Kemampuan Bersastra Produktif Lisan
Dan ProduktifTulis 3
2.2 Jenis Kemampuan Bersastra Produktif Lisan
Dan Produktif Tulis 6

BAB III PEMBAHASAN 9
3.1 Mengembangkan Kemampuan Berbahasa Produktif Lisan
Dan Produktif Tulis 9
3.2 Memanfaatkan Kemampuan Berbahasa Produktif Lisan Dan
Produktif Tulis 12
3.3 Aktifitas Pengembangan Produktif Lisan
Dan Produktif Tulis 15
BAB IV PENUTUP 18
4.1 Kesimpulan 18
4.2 Saran 19
DAFTAR PUSTAKA 20

BAB I
PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG MASALAH
Upaya pemahaman unsure-unsur dalam bacaan dan tulisan sastra tidak dapat dilepaskan dari masalah membaca. Sebab itu sebelum melakukan kegiatan apresiasi dalam rangka usaha memahami unsure-unsur intrinsik dalam teks sastra, masalah membaca dan menulis sedikit banyak harus dipahami oleh para calon apresiator. Menyadari kenyataan itu, dalam makalah ini sebelum membaca mempelajari paparan yang bersifat teoretis yang difungsikan sebagai kerangka analisis, terlebih dahulu diperkenalkan pada sejumlah masalah yang berkaitan dengan sastra produktif lisan dan tulis.
Pemahaman dan penguasaan tentang apresiasi sastra produktif sangat fungsional dan menunjang pelaksanaan tugas dan tanggungjawab Anda dalam menyukseskan amanah Kurikulum tentang apresiasi sastra. Tentu kita sepaham bahwa kualitas apresiasi sastra anak di SD antara lain ditentukan oleh taraf pemahaman dan pengalaman apresiasi sastra yang Anda miliki sebagai guru kelas. Oleh karena itu, perlu Anda kaji dan berlatih tentang materi-materi yang dapat diterapkan dalam mengapresiasi sastra anak-anak secara produktif. Untuk memperoleh pemahaman dan pengalaman bermakna tentang berbagai materi tersebut, silakan baca dengan sungguh-sungguh makalah berikut.

2. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang tersebut, dapat ditarik beberapa rumusan masalah yang berkaitan dengan, identfikasi kemampuan bersastra produktif, antara lain :
1. Apa itu pengertian dari kemampuan bersastra produktif lisan dan tulis ?
2. Apa saja jenis kemampuan bersastra produktif lisan dan tulis ?
3. Bagaimana cara mengembangkan kemampuan bersastra produktif lisan dan tulis ?
4. Apa manfaat pengembangan kemampuan bersastra produktif lisan dan tulis ?
5. Apa saja yang termasuk dalam aktivitas pengembangan kemampuan bersastra produktif lisan dan tulis ?

3. TUJUAN PEMBAHASAN
Dari rumusan masalah di atas, tujuan pembahasan tentang identfikasi kemampuan bersastra produktif lisan dan produktif tulis :
1. Untuk dapat mengerti apa itu kemampuan bersastra produktif lisan dan tulis.
2. Untuk dapat mengerti jenis kemampuan bersastra produktif lisan dan tulis.
3. Untuk mengetahui bagaimana cara mengembangkan kemampuan bersastra produktif lisan dan tulis.
4. Untuk mengetahui apa saja manfaat pengembangan kemampuan bersastra produktif lisan dan tulis.
5. Untuk mengetahui apa saja yang termasuk dalam aktivitas pengembangan kemampuan bersastra produktif lisan dan tulis.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Kemampuan Bersastra Produktif
Kemampuan bersastra produktif adalah kemampuan untuk menghasilkan suatu jenis karya sastra yang ditujukan untuk menyampaikan hasil pikiran, ide-ide, dan penalarannya kepada orang lain. Kemampuan bersastra produktif dibagi menjadi dua, yaitu kemampuan bersastra produktif lisan ( berbicara ) dan kemampuan bersastra produktif tulis ( menulis ).

1. Kemampuan Bersastra Produktif Lisan
Pengertian kemampuan bersastra produktif lisan Sastra lisan merupakan karya sastra yang dapat kita temukan dalam masyarakat. Sastra lisan merupakan karya sastra yang beredar di masyarakat atau diwariskan secara turun-menurun dalam bentuk lisan. Dalam hal ini, sastra lisan dapat disebut sebagai folklor. Folk merupakan sebuah komunitas masyarakat tertentu yang memiliki ciri-ciri dan budaya yang sama. Sedangkan lore merupakan sebagian kebudayaan masyarakat yang disampaikan secara turun-menurun dalam bentuk lisan. Jadi, folklor atau sastra lisan adalah suatu kebudayaan yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat tertentu yang diperoleh secara turun-temurun dari mulut ke mulut secara lisan.
Sastra lisan yang dimiliki oleh suatu daerah tertentu, umumnya akan berbeda dengan yang lain. Bahkan dalam daerah yang bersangkutan terdapat kemungkinan tentang adanya versi. Hal ini tidak menjadi persoalan karena ciri khas dari sebuah karya sastra lisan adalah dengan adanya versi. Namun, hal yang menjadi perhatian kita adalah tentang keberadaan sastra lisan yang ada di daerah kita. Memang banyak peneliti yang telah mengkaji sastra lisan yang ada di Indonesia, tetapi masih banyak juga sastra lisan yang terlewatkan oleh peneliti.
Sastra lisan merupakan warisan budaya yang kita miliki. Sudah seharusnya kita sebagai bagian dari masyarakat untuk melestarikannya agar jangan sampai semua itu luntur. Sastra lisan merupakan kajian yang menarik jika kita mampu menelusuri lebih dalam tentang sebuah sastra lisan. Banyak hal yang terkandung dalam sebuah sastra lisan, tidak hanya mencakup makna simbolik, fungsi, serta nilai tetapi juga dapat kita kaji aspek strukturnya sebagaimana struktur dalan sebuah karya sastra. Seperti halnya dengan sebuah karya sastra, sastra lisan dapat ditafsirkan sebagai langkah untuk memperoleh pesan, makna, dan fungsi.
Sebagai contoh terdapat ungkapan endas gundul dikepeti, melu ngudek luluh yo kudu gelem reged, maupun ungkapan ora gopak pulut kok mangan nangkane. Sesuai dengan bahasa yang digunakan, ungkapan tersebut dipakai oleh masyarakat Jawa. Memang tidak semua masyarakat Jawa masih menggunakan, namun ungkapan ini masih dapat ditemui di daerah Trenggalek, Ponorogo dan sekitarnya. Jika dianalisis, maka tiap ungkapan tersebut memiliki pesan yang tersirat.
Pada ungkapan yang pertama yaitu endas gundul dikepeti, artinya sudah enak di enak-enakan lagi. Orang yang hidupnya sudah enak malah dimanja oleh orang lain. Biasanya ungkapan ini diucapkan kepada anak orang kaya yang dimanja. Atau orang kaya yang diperlakukan baik di bidang hukum. Kemudian ungkapan melu ngudek luluh yo kudu gelem reged. Ungkaan tersebut berarti ikut mencampur bahan betonnya harus mau kotor. Maksudnya jika kita ikut menyelesaikan masalah, maka kita juga harus berani menanggung resiko atau akibatnya. Diibaratkan demikian, karena orang yang ikut membangun bangunan itu harus sampai selesei dalam arti harus sampai jadi tidak ditinggal ditengah jalan ketika bangunan masih jadi separo dengan alasan takut kotor. Hal ini berlaku juga kalau kita membantu masalah teman atau orang lain harus sampaiselesi dan mau enanggung resiko apapun yang akan terjadi. Sedangkan ungkapan ora gopak pulut kok mangan nangkane berarti tidak ikut merasakan getahnya tetapi ikut makan buah nangkanya. Tidak ikut bersusah payah atau bekerja keras tetapi ikut menikmati hasilnya. Biasanya diucapkan pada orang yang sukanya enak-enakan tetapi ketika membagi hasil dia malah menyerobot orang lain.

Kemampuan bersastra lisan merupakan kegiatan membaca sastra lebih expresif. Sehingga seseorang tersebut harus menguasai aspek dasar berbahasa. Dalam hal ini, seseorang harus berkreasi untuk dapat mengeksprsikan teks. Sehingga apa yang mulanya berbentuk tulisan (teks) dapat “dihidupkan” dalam bentuk lisan dngan segala bentuk muatan emosi dan karakter . Selain itu bersastra produktif lisan adalah suatu aktifitas dimana seseorang mampu membaca dengan target menghidupkan teks dengan muatan emosi dan karakter lebih berkenaan dengan aktifiyas kreatif (berkesenian).
2. Kemampuan Bersastra Produktif Tulis
Sastra produktif tulis adalah sastra yang menggunakan tulisan atau literal. Menurut Sulastin Sutrisno (1985), awal sejarah sastra tulis melayu bisa dirunut sejak abad ke 7 M. berdassarkan penemuan prasasti bertuliskan huruf palawa peninggalan kerajaan Sriwijaya di Kedukan Bukit (683), Talang Tuwo(684), kota Kapur (686), dan Karang Brahi (686). Walaupun tuliskan pada prasati-prasati tersebut pendek-pendek, teteapi prasasti-prasati yang merupakan benda peninggalan sejarah itu dapat disebut sebagaiu cikal bakal lahirnya tradisi menulis atau sebuah bahasa yang dituangkan dalam bentuk tulisan.
Sastra tulis merupakan ciri sastra modern karena bahasa tulisan di anggap sebagai referensi peradapan masyarakat yang lebih maju. Menurut Ayu Sutarto(2004) dan Daniel Dakhidae (1996) tradisi sastra lisan menghambat bagi kemajuan bangsa. Maka, tradisi lisan harus diubah menjadi tradisi menulis. Karena budaya tulis menulis selalu identik dengan kemajuan beradaban keilmuan. Pendapat ini mungkin tidak keliru. Tapi, bukan berarti kita dengan begitu saja mengabaikan atau bahnakan meninggalkan tradisi sastra lisan yang sudah mengakar dan menjadi identitas cultural masing-masing suku didaerah keseluruhan Indonesia.
Pada akhirnya, proses pergeseran dari tradisi sastra lisan menuju sastra tulisan tidak dapat dihindari. Karena sadar atau tidak, bagaimanapun proses pertumbuhan sastra akan mengarah dan berusaha menemukan bentuk yang lebih maju dan lebih sempurna sebagaimana terjadi pada bidang yang lainnya. Karena proses perubahan seperti ini merupakan sebuah keniscayaan terutama dalam stuktur masyarakat yang dinamis.
Belum ditemukan data yang pasti, yang menunjukan kapan tepatnya tradisi sastra tulis dimulai. Sastra tulis yang tercerat dalam sejarah kesusastraan Indonesia mungkin bisa dikatakan dimulai sejak abad ke 20, yaitu pad periode pujangga lama. Dan kemudian mulai menunjukan wujudnya yang lebih nyata pada periode balai pustaka yang bisa disebut sebagai tonggak perkembangan sejarah kesustraan modern Indonesia. Dimana dengan lahirnya penerbit pertama di Indonesia bidang kesustraan mulai dikembangkan secara lebih terorganisir dan, pada periode berikutnya, terus berkembang lebih luas.

B. Jenis Kemampuan Bersastra Produktif Lisan dan Tulis
1. Jenis Kemampuan Bersastra Produktif Lisan
a. Berdasarkan Bentuk dan Isi:
1. Bahasa rakyat seperti logat, julukan, pangkat tradisional, dan titel kebangsawanan.
2. Ungkapan tradisional seperti peribahasa, pepatah, dan pemeo.
3. Pertanyaan tradisional seperti teka-teki.
4. Puisi rakyat yang terdiri dari: pantun, syair dan gurindam.
5. Cerita prosa, contohnya seperti mite, legenda, dan dongeng.
6. Nyanyian rakyat
b. Berdasarkan Pendekatan Apresiasi Sastra
1. Pendekatan Emotif
Pendekatan emotif merupakan pendekatan yang mengarahkan pembaca untuk mampu menemukan dan menikmati nilai keindahan (estetis) dalam suatu karya tertentu (rima, irama diksi), baik dari segi bentuk maupun dari segi isi. Kaitannnya dengan pendekatan emotif, Aminudin (2004: 42) mengemukakan bahwa: “pendekatan emotif adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukan unsur-unsur yang mengajuk emosi atau perasaan pembaca. Ajukan emosi itu berhubungan dengan keindahan penyajian bentuk maupun ajukan emosi yang berhubungan d]engan isi atau gagasan yang lucu atau menarik”. Pendekatan Emotif lebih menekankan terhadap nilai keindahan yang berkaitan keindahan bentuk:
• Rima
Merupakan pengindah puisi dalam bentuk pengulangan bunyi baik awal, tengah maupun akhir.
• Irama
Adalah alunan bunyi ketika membacakan kalimat demi kalimat dalam puisi.
• Diksi (pilihan kata)
• Mimik adalah peniruan ekspresi raut muka.
• Kinesik yakni gerakan tubuh seperti tangan, kaki, kepala, atau yang lainnya.
• Volume suara adalah tingkat keras lunaknya suara.
• Artikulasi adalah pengucapan kata harus jelas.
2. Pendekatan Didaktis
Pendekatan didaktis adalah suatu pendekatan yang berusaha mengemukakan dan memahami gagasan, tanggapan, evaluatif maupun sikap pengarang terhadap kehidupan. Gagasan, tanggapan maupun sikap itu dalam hal ini akan mampu terwujud dalam suatu pandangan etis, filosofis, maupun agamis sehingga akan mampu memperkaya kehidupan rohaniah pembaca.
2. Jenis kemampuan Bersastra Produktif Tulis
Sastra tertulis itu terbagi atas 4 jenis yaitu : Novel, Cerita/Cerpen, Syair, Pantun dan drama.
1. Novel
Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dan naratif; biasanya dalam bentuk cerita. Penulis novel disebut novelis.
2. Cerpen
Sebuah situasi yang digambarkan singkat yang dengan cepat tiba pada tujuannya, dengan parallel pada tradisi penceritaan lisan.
3. Syair
Syair adalah puisi atau karangan dalam bentuk terikat yang mementingkan irama sajak. Biasanya terdiri dari 4 baris, berirama aaaa, keempat baris tersebut mengandung arti atau maksud penyair (pada pantun, 2 baris terakhir yang mengandung maksud).
4. Pantun
Salah satu jenis puisi lama , lazimnya pantun terdiri atas empat larik (atau empat baris bila dituliskan), bersajak akhir dengan pola a-b-a-b dan a-a-a-a (tidak boleh a-a-b-b, atau a-b-b-a).
5. Drama
Satu bentuk karya sastra yang memiliki bagian untuk diperankan oleh aktor. Drama juga terkadang dikombinasikan dengan musik dan tarian, sebagaimana sebuah opera.

BAB III
PEMBAHASAN

A. Mengembangkan Kemampuan Bersastra Produkti Lisan dan Produktif Tulis
1. Cara Pengembangan Kemampuan Bersastra Produktif Lisan
Sastra produktif dibagi menjadi 2 yaitu produktif lisan (berbicara) dan produktif tulis (mengarang/menulis). Jadi terdapat 2 kemampuan yang di butuhkan dalam membuat suatu karya sastra, yaitu kemampuan berbicara dan kemampuan mengarang.
Keterampilan berbicara lebih mudah dikembangkan apabila murid-murid memperoleh kesempatan untuk mengkomunikasikan sesuatu secara alami kepada orang lain,dalam kesempatan yang bersifat informal.
Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengembangkan kemampuan bersastra produktif Lisan , antara lain:
a. Curah gagasan atau curah pendapat
b. Menumbuhkan daya imajinasi
c. Menumbuhkan minat dan kemampuan siswa dalam hal sastra
Untuk dapat mengembangkan kemampuan bersastra seseorang juga harus mengembangkan kemampuan berkomunikasi agar apa yang disampaikan mampu diterima dan dipahami oleh para pendengarnya. Sehingga, untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi seeorang harus mempunyai potensi yang sekaligus sebagai keterampilan dalam komunikasi bahasa, yang dasarnya mencangkup 4 hal. Yaitu:
1. Menyimak (mendengarkan),
2. Membaca
3. Berbicara
4. Menulis.
Keempat hal tersebut selanjutnya disebut sebagai keterampilan berbahasa yang bergua dalam mengembangkan kamampuan bersastra.

2. Cara Pengembangan Kemampuan Bersastra Produktif Tulis
Ide-ide kreatif tentang penulisan sastra kreatif dikemukakan dengan menarik oleh Steven James. Dalam artikelnya yang berjudul Pump Up Your Creativity (2002), proses menulis karya sastra dapat dilakukan melalui beberapa cara :
1. Yang pertama adalah dengan Explore Your L.I.F.E. atau dengan Eksplorasilah L.I.F.E.-mu!.
L merupakan singkatan dari Literature. Maksudnya, proses kepenulisan harus diimbangi dengan banyak membaca karya sastra yang ada. Fungsinya tak lain adalah untuk menumbuhkan ide dan sebagai bentuk pembelajaran tentang teknik-teknik menulis dari berbagai pengarang. I merupakan singkatan dari Imagination. Maksudnya, imajinasi calon penulis harus dieksplorasi sebanyak mungkin. James menganjurkan untuk membebaskan imajinasi. F merupakan singkatan dari Folklore. Calon penulis dapat mengeksplorasi folkore atau sastra lisan yang dapat dijadikan inspirasi penulisan cerita. E merupakan singkatan dari experience atau pengalaman. Menulis bukanlah proses sekali jadi, melainkan melalui beberapa tahapan dan terkadang melewati beberapa pengalaman. Para siswa dianjurkan untuk mengasah kemampuan menulisnya dengan menulis sebanyak dan sesering yang mereka bias, sehingga mereka menjadi semakin terampil dan tulisan mereka menunjukkan peningkatan kualitas.

2. Kedua, Change Your Perspective atau Ubahlah Perspektifmu.
Mengapa proses menulis kadang dihindari atau dianggap sebagai suatu kegiatan yang tidak bisa dilakukan oleh semua 9 orang? Hal itu, menurut James hanya mitos belaka dan harus segera diubah perspektifnya. Menulis bukan sesuatu hal yang sulit, namun hanya membutuhkan ketelatenan dan latihan. Menulis karya sastra pun demikian.

3. Ketiga, Let Serependity Happen atau Biarkan Hal-hal yang Tak Terduga Terjadi.
Jika seorang penulis kekurangan ide dan merasa kesulitan untuk menemukan ide, maka yang dapat dilakukan salah satunya adalah relaksasi sampai ditemukannya ide yang bisa menyambung cerita yang sementara terputus. Mengapa relaksasi itu penting? Karena, menurut James, mengkhawatirkan ketidakmampuan melanjutkan cerita secara terus-menerus bukanlah pemecahan yang baik. Berelaksasi merupakan salah satu cara yang selain rekreatif juga bias dimanfaatkan sebagai bentuk penggalian ide baru.

4. Keempat adalah Set Boundaries atau Membuat Perangkat Cerita.
Perangkat cerita ini antara lain penetuan tema, deadline penyelesaian cerita, panjang pendek cerita, genre yang akan ditulis, dsb. Seorang penulis perlu merencakan beberapa penentuan itu sebagai perngkat yang menjadi kemudi dari karya yang akan ditulisnnya.

5. Kelima adalah Look for Connections atau Mencari Hubungan.
Masalah kreativitas adalah masalah kemampuan untuk menggabungkan ide yang berbeda, pemikiran baru, dan mencoba mencari sesuatu hal yang baru. James menyarankan untuk berpikir secara metaforis sebagai upaya penemuan formula penyampaian cerita yang tidak biasa.

6. Keenam, Ask Stupid Questions atau Tanyakanlah Hal-hal yang Konyol. Mengajukan pertanyaan yang mungkin dapat dianggap konyol itu perlu dalam rangka mengetahui: adalah hal-hal yang tertinggal dari tulisan yang telah dibuat atau apa yang ingin diketahui oleh pembaca mengenai cerita anak? Bisa saja ada hal yang sebenarnya menarik atau ingin anak tulis tapi tertinggal atau lupa tidak anak tuliskan. Bagaimana anak tahu jika ada hal yang kurang dari tulisan? James menyarankan untuk menyerahkan karya anak kepada pembaca agar ia dapat mengomentari karya yang telah anak buat.

7. Terakhir atau ketujuh adalah Questions Your Direction atau Tentukan Tujuan Kepenulisanmu.
James menyarankan untuk menanyakan tujuan kepenulisan anak . Seorang penulis sebaiknya tidak merasa cukup puas hanya dengan karya yang telah dihasilkannya. Sebaliknya, seorang penulis perlu membuat tujuan ke depan dari proses kepenulisan yang telah dipilihnya.

B. Manfaat Pengembangan Kemampuan Bersastra Produktif Lisan dan Produktif Tulis
1. Manfaat Pengembangan Kemampauan Bersastra Produktif Lisan
Setiap sastra lisan atau folklor memiliki manfaat atau kegunaan di dalam masyarakat pemiliknya. Hal inilah yang menjadikan sastra lisan diminati dan dipertahankan oleh suatu komunitas masyarakat Pemiliknya.
Pendapat yang khusus membicarakan manfaat sastra lisan adalah yang dikemukakan oleh Danandjaja. mengatakan bahwa sajak rakyat bermanfaat sebagai :
a. Alat kendali sosial, (untuk hiburan),
b. Untuk memulai sesuatu permainan, dan,
c. Untuk menekan dan mengganggu orang lain.
Pendapat lainnya tentang manfaat sastra lisan menurut Hutomo adalah sebagai berikut:
a. Sebagai sistim proyeksi,
b. Untuk pengesahan kebudayaan,
c. Sebagai alat pemaksa berlakunya norma-norma sosial, dan sebagai alat pengendali sosial,
d. Sebagai alat pendidikan anak,
e. Untuk memberikan suatu jalan yang dibenarkan oleh masyarakat agar dia dapat lebih superior daripada orang lain,
f. Untuk memberikan seseorang jalan yang dibenarkan masyarakat agar dia dapat mencela orang lain,
g. Sebagai alat untuk memprotes ketidakadilan dalam masyarakat,
h. Untuk melarikan diri dari himpitan hidup, atau dengan kata lain berfungsi sebagai hiburan semata.
Sastra lisan juga berguna untuk media pendidikan masyarakat karena didalamnya terkandung berbagai amanah dan pesan penting yang juga harus dipahami oleh masyarakat.
a. Pelipur lara,yakni sastra lisan berfungsi sebagai penghibur dalam masyarakat. Banyak berbagai sastra lisan yang bertema humoris dan mengandung unsure pelipur lara. Misalnya dongeng si kancil yang sangat humoris dan kental akan imajinasi.
b. Protes sosial, yakni sastra lisan yang berkembang juga termasuk bentuk media pada jaman yang bersangkutan untuk menyampaikan apa yang menjadi aspirasi masyarakat. Sebuah cerite bisa mewakilkan isi hati masyarakat.
c. Sindiran, yakni sebuah ungkapan yang disampaikan oleh masyarakat dalam bentuk sastra lisan, misalnya lagu rakyat, pantun rakyat dan lain sebagainya.

Dalam melihat manfaat tradisi lisan atau folklor sebaiknya dikembalikan kepada masyarakat pemiliknya. Manfaat-manfaat tersebut bisa saja hilang atau hanya tinggal manfaat tertentu. Bertahan atau tidaknya manfaat itu tergantung pada sikap suatu masyarakat atas tradisi lisan atau folklor yang lahir dan berkembang dalam masyarakat tersebut. Manfaat tersebut di atas akan digunakan sesuai dengan objek kajian dalam penelitian ini. Artinya, landasan teori tersebut akan digunakan sebagai acuan yang aplikasinya sesuai dengan kondisi data.

2. Manfaat Pengembangan Kemampauan Bersastra Produktif Tulis
Menulis memiliki peran yang sangat penting bagi manusia yang selalu dituntut untuk bersosialisasi dengan orang lain, banyak manfaat yang bisa diperoleh dari aktivitas menulis. Komaidi (2007:12) menyebutkan beberapa manfaat dari aktivitas menulis sebagai berikut.
1) Kalau kita ingin menulis pasti menimbulkan rasa ingin tahu (curiocity) dan melatih kepekaan dalam melihat realitas di sekitar. Kepekaan dalam melihat suatu realitas lingkungan itulah yang kadang tidak dimiliki oleh orang yang bukan penulis.
2) Dengan kegiatan menulis mendorong kita untuk mencari referensi seperti buku, majalah, Koran, jurnal dan sejenisnya. Dengan membaca referensi-referensi tersebut tentu kita akan semakin bertambah wawasan dan pengetahuan kita tentang apa yang akan kita tulis.
3) Dengan aktivitas menulis, kita terlatih untuk menyusun pemikiran dan argumen kita secara runtut, sistematis dan logis.
4) Dengan menulis secara psikologis akan mengurangi tingkat ketegangan dan stres kita. Segala uneg-uneg, rasa senang, atau sedih bisa ditumpahkan lewat tulisan di mana dalam tulisan orang bisa bebas menulis tanpa diganggu atau diketahui oleh orang lain.
5) Dengan menulis di mana hasil tulisan kita dimuat oleh media massa atau diterbitkan oleh suatu penerbit kita akan mendapatkan kepuasan batin karena tulisannya dianggap bermanfaat bagi orang lain, selain itu juga memperoleh honorarium (penghargaan) yang membantu kita secara ekonomi.
6) Dengan menulis dimana tulisan kita dibaca oleh banyak orang (mungkin puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan) membuat sang penulis semakin popular dan dikenal oleh publik pembaca.

Pendapat di atas menunjukkan bahwa manfaat menulis adalah menimbulkan rasa ingin tahu, mencari referensi, aktivitas menulis, mengurangi tingkat ketegangan dan stres, dan bermanfaat bagi orang lain.
Hal serupa diungkapkan Hernowo (2005:81), manfaat menulis sebagai berikut.
1) Mengatasi ihwal ketidak tahuan.
2) Mengelola kepercayaan yang mengekang dan tidak tepat.
3) Mengendalikan rasa takut.
4) Memperbaiki perasaan kurang menghargai diri sendidri.
5) Mengusir rasa gengsi.
6) Mengatasi ihwal ketidak tahuan.
7) Mengelola kepercayaan yang mengekang dan tidak tepat.
8) Mengendalikan rasa takut.
9) Memperbaiki perasaan kurang menghargai diri sendidri.
10) Mengusir rasa gengsi.

Manfaat menulis yang diungkapkan Hernowo di atas yaitu mengatasi ketidaktahuan, maksudnya manfaat dari sering menulis sebagai penulis akan mengetahui letak kesalahan dari tulisan yang telah penulis tulis, mengelola kepercayaan yang mengekang dan tidak tepat, mengendalikan rasa takut, memperbaiki perasaan kurang menghargai perasaan diri sendiri dan mengusir rasa gengsi.
Hal yang berbeda diungkapkan Pennebaker dalam Hernowo (2005:54), manfaat menulis sebagai berikut.
1) Menulis menjernihkan pikiran.
2) Menulis mengatasi trauma.
3) Menulis membantu mendapatkan dan mengingat informasi baru.
4) Menulis membantu memecahkan masalah.
5) Menulis dengan bebas membantu ketika terpaksa harus menulis.

Manfaat menulis menurut Pennebeker adalah dengan seringnya menulis akan membuat pikiran jernih, mengatasi trauma dituangkan ke dalam tulisan, dengan menulis dapat membantu mendapatkan dan mengingat informasi baru, memecahkan masalah melalui sebuah tulisan karena semua yang ada dalam pikiran dituangkan ke dalam tulisan, dan terakhir manfaat menulis secara bebas dapat membantu ketika terpaksa harus menulis.
Semi (2007:4) berpendapat bahwa manfaat menulis dapat menimbulkan rasa ingin tahu (curiocity) dan melatih kepekaan dalam melihat realitas disekitar lingkungan itulah yang kadang tidak dimiliki oleh orang yang bukan penulis. Seseorang dalam menulis memiliki rasa ingin tahu dan melatih kepekaannya terhadap lingkungan sekitar.
Pendapat lain diemukakan oleh Laksana (2007:10), manfaat menulis dapat menambah wawasan, melatih diri untuk berpikir lebih baik dan memelihara akal sehat, manfaat menulis dapat memberikan kekuatan lisan dan kemahiran menulis dengan gerakan lidah dan penanya. Manfaat menulis menambah wawasan kita untuk berpikir lebih baik dan memelihara akal sehat.
Menurut Syamsudin (2005:3), manfaat menulis dapat membuat kegiatan yang produktif dan ekspresif sehingga tata tulis, struktur bahasa, dan kosakata dapat bermanfaat bagi penulis. Manfaat menulis dapat mamberikan pendapat, ide, dan pikiran melalui hasil tulisan.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan menulis memiliki manfaat yang sangat luas. Selain dapat mengenali kemampuan dan potensi diri, menulis merupakan cara menyampaikan pesan berupa pengetahuan, pikiran, perasaan, dan pengalaman kita kepada orang lain.

C. Aktivitas Pengembangan Kemampuan Bersastra Produktif Lisan dan Tulis

1. Aktivitas Pengembangan Kemampuan Bersastra Produktif Lisan
Kemampuan berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan dapat dikembangkan melalui pengembangan kemampuan bersastra sejak dini. Siswa sd dapat diperkenalkan pada berbagai jenis dan bentuk sastra anak melalui kegiatan mendengarkan, membaca dan menulis. Cara mengapresiasikan dan mengekspresikan sastra dapat dilakukan salah satunya melalui kegiatan melisankan hasil sastra berupa dongeng. Penyampaian isi pembelajaran bahasa melalui sastra lisan ini memungkinkan anak-anak mempelajari isi pembelajaran bahasa secara nyata atau alami, karena proses belajar mengajar yang alami akan memudahkan siswa untuk memahami pelajaran.
Pengembangan sastra lisan ini salah satunya dapat melalui teknik, cara atau metode bercerita atau mendongeng. Hasil penelitian Culinan (1998:10) memperlihatkan bahwa menyimak dan membacakan sebuah cerita yang baik dan bagus dapat mengembangkan kosa kata, mempertajam kepekaan terhadap bahasa dan memperhalus laras gaya bahasa lisan.
Selain itu dalam pendidikan formal yaitu Selama dalam kegiatan belajar disekolah yang dapat guru lakukan untuk menciptakan berbagai lapangan pengalaman yang memungkinkan murid-murid mengembangkan kemampuan bersastra produktif lisan. Kegiatan-kegiatan untuk melatih keterampilan berbicara siswa itu antara lain :

1. Menyajikan informasi
Salah satu bentuk kegiatan penyajian informasi adalah dengan berpidato. Tujuan kegiatan ini untuk menolong anak-anak : mengembangkan rasa percaya diri dalam berbicara dengan oranglain, belajar menyusun,dan menyajikan suatu pembicaraan, dan mempelajari cara yang terbaik untuk berbicara di hadapan sejumlah pendengar.

2. Berpartisipasi dalam diskusi
Diskusi kelompok merupakan tekhnik yang paling sering digunakan sebagai teknik pengembangan bahasa lisan yang menuntut kemampuan murid untuk membuat generalisasi dan mengajukan pendapat mengenai suatu topik atau permasalahan.

3. Berbicara untuk menghibur dan menyajikan pertunjukkan
Murid dapat menyajikan pertunjukan untuk teman atau teman sekelas atau teman kelas lain, orangtua dan anggota masyarakat sekitar gedung sekolah. Mereka bisa menyajikan sandiwara boneka, bercerita atau membaca puisi secara kor atau berpartisipasi dalam pementasan drama.

2. Aktivitas Pengembangan Kemampuan Bersastra Produkif Tulis

1. Mencontoh huruf atau membuat kalimat pendek
Anak dapat mulai menggunakan huruf-huruf yang dikenalnya dalam menamakan suatu benda, dan menulis kata-kata yang pernah dipelajar atau pernah terekam dalam memori.
2. Menuliskan pengalaman pribadi
Didalam pengembangan ini anak dilatih untuk menulis pengalaman pribadi yang mereka alami dan ini dituangkan dalam bentuk tulisan.
3. Membuat puisi
Anak dapat mengekspresikan perasaan yang dituangkan kedalam bentuk puisi dengan kata lain anak dilatih untuk dapat mengarang menggunakan kata-kata indah.
4. Membuat cerpen
Melatih anak untuk dapat berimajinasi secara luas dan dituangkan dalam bentuk cerita.

BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1. Kemampuan bersastra produktif adalah kemampuan untuk menghasilkan suatu jenis karya sastra yang ditujukan untuk menyampaikan hasil pikiran, ide-ide, dan penalarannya kepada orang lain. Kemampuan bersastra produktif dibagi menjadi dua, yaitu kemampuan bersastra produktif lisan ( berbicara ) dan kemampuan bersastra produktif tulis ( menulis ).
2. Kemampuan bersastra produktif lisan yaitu suatu aktifitas dimana seseorang mampu menghasilkan karya sastra dalam bentuk lisan ( berbicara ) dengan target menghidupkan teks dengan muatan emosi dan karakter lebih berkenaan dengan aktifiyas kreatif (berkesenian). Sedangkan yang dimaksud dengan kemampuan bersastra produktif tulis adalah suatu aktifitas dimana seseorang mampu menghasilkan suatu karya sastra dalam bentuk tulisan ( literal ).
3. Jenis kemampuan bersastra produktif lisan dapat di golongkan berdasarkan bentuk isi dan Berdasarkan Pendekatan Apresiasi Sastra. Sedangan Jenis kemampuan Bersastra Produktif Tulis berdasarkan bentuk dan isinya itu terbagi atas 4 jenis yakni Novel, Cerita/Cerpen, Syair, Pantun dan drama.
4. Cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kemampuan bersastra produktif Lisan yaitu, Curah gagasan atau curah pendapat, Menumbuhkan daya imajinasi Menumbuhkan minat dan kemampuan siswa dalam hal sastra. Cara pengembangan kemampuan bersastra produktif tulis yaitu ada 7
5. Manfaat pengembangan kemampuan bersastra produktif lisan menurut Danandjaja, Hutomo dan Masyarakat. Manfaat pengembangan kemampuan bersastra produktif tulis menurut Komaidi, Hernowo, Pennebaker, Semi , Laksana dan Syamsudin.
6. Aktivitas pengembangan kemampuan bersastra produktif lisan yaitu : bisa mendengarkan, membaca, dan menulis dongeng ataupun karya sastra lainnya, berpidato, berdiskusi, dan Mereka juga bisa menyajikan sandiwara boneka, bercerita atau membaca puisi secara kor atau berpartisipasi dalam pementasan drama. Aktivitas pengembangan kemampuan bersastra produktif tulis Mencontoh huruf atau membuat kalimat pendek, Menuliskan pengalaman pribadi, Membuat puisi dan Membuat cerpen.

B. SARAN
Dari makalah ini, dapat diambil beberapa saran untuk mendukung pengembangan kemampuan bersastra Produktif, diantaranya :
Peran guru sekolah dasar di kelas-kelas tinggi sekolah dasar dalam meningkatkan kemampuan bersastra produktif lisan dan tulis ( berbicara dan menulis ) ialah memberikan kesempatan kepada murid-murid untuk saling menyampaikan pendapatnya secara lisan. Guru perlu memberikan dorongan kepada anak untuk mengemukakan pandangan dan pendapatnya. Kebiasaan untuk memperhatikan, memahami, dan menanggapi secara kritis pembicaraan orang lain perlu dikembangkan. Demikian juga anak-anak perlu diarahkan untuk dapat menyampaikan kritis yang konstruktif secara sopan, dan menerima kritik secara terbuka. Untuk itu guru perlu memberikan teladan sebagai pembicara yang efektif dan penulis yang kreatif.

DAFTAR PUSTAKA

Aminudin.1991.Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar baru.
Aminudin. 2000. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Anwar,Chairil.1987. Derai Dera Cemara. Jakarta: PT Dian Rakyat.
Drs.Haryadi,M.pd.1996.Peningkatan Keterampilan Berbahasa Indonesia. Departemen . Pendidikan dan Kebudayaan
Endraswara, Suwardi.2003. Membaca, Menulis, Mengajar Sastra. Sastra Berbasis Kompetensi. Yogyakarta: Kota Kembang.
Rofi’uddin Ahmad, dan Darmiyati Zuhdi. 1998. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Tinggi. Indonesia: Departeman Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.

http://syafar89.wordpress.com/2011/04/18/perbedaan-sastra-lisan-dan-sastra-tulis/diunduh/09-11-2012/14.47

http://sheltercloud.blogspot.com/2010/01/sastra-lisan-dan-sastra-tulisan.html/diunduh/09-11-2012/14.53

http://pjjpgsd.dikti.go.id/file.php/1/repository/dikti/Mata%20Kuliah%20Awal/Kajian%11/20Bahasa%20Indonesia%20SD/BAC/Unit_8.pdf/diunduh/09-11-2012/15.05

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s